Inggris, Piala Dunia 2026 dan Kutukan 60 Tahun
Inggris menatap Piala Dunia 2026 dengan harapan memutus penantian 60 tahun tanpa gelar. Generasi baru yang dipimpin Jude Bellingham dan Harry Kane diyakini mampu mengakhiri kutukan sejak 1966.

HALLONEWS.ID – Inggris jadi juara Piala Dunia. Harapan itu selalu lahir setiap empat tahun sekali.
Dari stadion-stadion tua di London hingga pub kecil di pelosok Inggris, jutaan pasang mata menatap satu mimpi yang sama: melihat tim nasional Inggris kembali jadi juara dunia.
Ironisnya, mimpi itu selalu kandas. Enam puluh tahun adalah waktu yang cukup untuk melahirkan beberapa generasi.
Bahkan anak-anak yang pernah menyaksikan Inggris mengangkat trofi Piala Dunia pada 1966 kini telah jadi kakek dan nenek. Sebagian bahkan telah pergi tanpa sempat melihat negeri yang mereka cintai kembali berdiri di puncak sepak bola dunia.
Piala Dunia 2026 datang bukan sekadar sebagai sebuah turnamen. Ia hadir sebagai persimpangan antara harapan dan sejarah, antara keyakinan dan trauma masa lalu.
Bagi Inggris, ini bukan hanya soal memenangkan pertandingan. Ini adalah upaya mematahkan kutukan yang terasa semakin panjang dari tahun ke tahun.
Sejak malam bersejarah di Wembley pada 1966, Inggris seperti terus berjalan dalam lingkaran yang sama. Mereka pernah memiliki generasi emas. Pernah memiliki para penyerang hebat, gelandang jenius, dan bek-bek tangguh.
Nama-nama seperti Bobby Charlton, Gary Lineker, Paul Gascoine, David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard hingga Wayne Rooney pernah memikul harapan itu.
Sayangnya setiap kali trofi tampak berada dalam jangkauan, sesuatu selalu terjadi.
Tendangan penalti yang melenceng. Gol yang tidak tercipta. Kesalahan kecil yang berubah menjadi bencana besar. Bahkan “tangan Tuhan” milik Maradona kerap membuat para pencinta Inggris bersedih.
Seolah ada tangan tak terlihat yang selalu menarik Inggris menjauh dari garis akhir.
Kutukan itu jadi bagian dari identitas sepak bola Inggris modern.
Mereka selalu datang sebagai salah satu favorit, tetapi selalu pulang dengan cerita penyesalan.
Bukan Generasi Nostalgia
Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa berbeda menjelang Piala Dunia 2026. Generasi pemain Inggris saat ini tak dibentuk oleh nostalgia kejayaan masa lalu.
Mereka tumbuh dalam era sepak bola global yang lebih cepat, lebih modern, dan lebih kompetitif.
Prestasi mentereng justru ditampilkan klub-klub Inggris di ajang piala antar klub benua biru. Dari 6 tim yang tampil di final Piala Eropa, Champions dan Confrencee, ada 4 wakil mereka di sana. Bahkan final UEFA Cup malah mempertemukan dua wakil Inggris di partai puncak.
Hebatnya lagi Inggris bisa mencetak sejarah asal saja Arsenal kemarin tidak kalah lewat drama adu penalti melawan PSG di partai puncak Liga Champions. Sebab Aston Villa dan Crystal Palace sudah lebih dahulu menggemggam piala implant mereka.
Kembali ke kekuatan timnas Inggris, mereka punya Jude Bellingham yang mampu memimpin lini tengah Inggris dengan kematangan yang sulit dipercaya di usianya.
Bukayo Saka bermain tanpa rasa takut. Declan Rice menghadirkan ketenangan, sementara Harry Kane tetap jadi simbol konsistensi yang jarang ditemukan dalam sepak bola modern.
Mereka bukan sekadar kumpulan pemain berbakat. Mereka adalah generasi yang tumbuh tanpa beban romantisme 1966. Mungkin itulah yang membuat harapan kali ini terasa lebih nyata.
Di pinggir lapangan berdiri Thomas Tuchel, seorang pelatih yang memahami bahwa turnamen besar tak selalu dimenangkan oleh tim terbaik, melainkan oleh tim yang mampu bertahan dari tekanan terbesar.
Ia datang membawa disiplin khas Jerman, ketelitian taktik, dan pengalaman memenangkan pertandingan-pertandingan penting.
Tuchel tidak banyak berbicara tentang gelar. Ia justru memilih meredam ekspektasi. Namun di balik sikap tenangnya, ada kesan bahwa ia memahami sesuatu yang selama ini menjadi kelemahan Inggris: ketakutan terhadap sejarah mereka sendiri.
Sebab lawan terbesar Inggris sesungguhnya bukan Argentina, Prancis, Spanyol, atau Brasil.
Lawan terbesar mereka adalah bayangan masa lalu.
Bayangan semifinal yang gagal dimenangkan. Bayangan final yang berakhir dengan air mata. Bayangan generasi-generasi sebelumnya yang datang dengan mimpi besar lalu pulang membawa kekecewaan.
Piala Dunia sering kali menjadi panggung tempat sejarah berulang. Tetapi sesekali, sejarah memilih untuk berubah arah.
Di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun depan, Inggris akan kembali memulai perjalanan yang sudah mereka tempuh berkali-kali. Mereka akan memasuki stadion dengan seragam putih yang sama, lagu kebangsaan yang sama, dan harapan yang sama.
Namun mungkin kali ini ada satu hal yang berbeda.
Mereka tidak lagi datang sebagai tim yang hanya berbakat. Mereka datang sebagai tim yang matang.
Kemenangan meyakinkan atas Kosta Rika dalam laga pemanasan terakhir hanyalah secuil gambaran.
Yang lebih penting adalah cara Inggris bermain: tenang, terorganisasi, dan tidak panik. Sebuah kualitas yang sering kali menjadi pembeda antara kandidat juara dan juara sesungguhnya.
Tentu tidak ada jaminan bahwa kisah ini akan berakhir bahagia. Piala Dunia selalu penuh kejutan. Satu cedera, satu kartu merah, atau satu kesalahan kecil dapat mengubah seluruh perjalanan.
Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Inggris tampak memiliki semua yang dibutuhkan untuk menulis akhir cerita yang berbeda.
Enam puluh tahun adalah penantian yang panjang. Terlalu panjang bagi sebuah negara yang mengaku sebagai tanah kelahiran sepak bola. Terlalu panjang bagi para pendukung yang terus percaya meski berkali-kali dikecewakan.
Karena itu, Piala Dunia 2026 bukan sekadar kesempatan meraih trofi. Piala Dunia adalah kesempatan untuk berdamai dengan sejarah.
Dan apabila pada suatu malam di musim panas Amerika trofi emas itu akhirnya terangkat ke langit, maka yang berakhir bukan hanya sebuah turnamen. I Yang berakhir adalah sebuah kutukan yang telah hidup selama enam dekade. (wib)
