Jejak Digital Tak Pernah Hilang, Dosen Unpak Ingatkan Bijak Bermedia Sosial

Jejak digital di media sosial dapat memengaruhi reputasi, pendidikan, hingga karier. Dosen Unpak mengingatkan masyarakat agar lebih bijak sebelum mengunggah konten di internet.

Selasa, 14 Juli 2026 - 16:50 WIB
Jejak Digital Tak Pernah Hilang, Dosen Unpak Ingatkan Bijak Bermedia Sosial
David Rizar Nugroho, Dosen Ilmu Komunikasi FISIB Universitas Pakuan,Bogor. (Foto: Hallonews/Yopy)

HALLONEWS.ID – Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Mulai dari berbagi momen, menyampaikan pendapat, hingga membangun relasi, hampir seluruh aktivitas kini dilakukan melalui platform digital.

Di balik kemudahannya, setiap unggahan, komentar, foto, maupun video akan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus sepenuhnya.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan, David Rizar Nugroho, mengatakan masih banyak pengguna media sosial yang mengira menghapus unggahan berarti menghilangkan seluruh jejak digitalnya.

Padahal, menurutnya, konten yang pernah dipublikasikan bisa saja telah disimpan oleh pengguna lain, diarsipkan mesin pencari, atau tersebar melalui tangkapan layar (screenshot).

“Artinya, apa yang diunggah hari ini dapat muncul kembali di masa depan, bahkan ketika pemilik akun sudah melupakannya,” ujar David, Selasa (14/7/2026).

David menjelaskan, jejak digital merupakan rekaman aktivitas seseorang di internet yang terbentuk dari berbagai interaksi, mulai dari unggahan media sosial, komentar, riwayat pencarian, transaksi daring, hingga penggunaan berbagai aplikasi.

Rekam jejak tersebut pada akhirnya membentuk citra digital seseorang yang dapat diakses dan dinilai oleh berbagai pihak.

Menurutnya, rekam jejak digital kini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk proses rekrutmen kerja.

“Kalau melamar pekerjaan, lalu perusahaan menelusuri profil media sosial dan menemukan pelamar sering menyebarkan hoaks atau ujaran kebencian, besar kemungkinan dia tidak akan diterima,” jelasnya.

Tak hanya perusahaan, institusi pendidikan juga dapat menelusuri aktivitas digital calon mahasiswa.

Sementara itu, pelaku usaha memanfaatkan reputasi digital untuk membangun kepercayaan pelanggan. Karena itu, perilaku di dunia maya kini memiliki dampak nyata terhadap kehidupan di dunia nyata.

Meski demikian, David menilai masih banyak pengguna media sosial yang kurang berhati-hati

Komentar bernada kebencian, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, hingga unggahan yang melanggar privasi orang lain masih kerap ditemukan.

Bahkan, tidak sedikit kasus ketika unggahan lama kembali viral dan berdampak pada reputasi seseorang bertahun-tahun kemudian.

Selain memengaruhi citra diri, penggunaan media sosial yang tidak bijak juga berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, hingga penyebaran data pribadi tanpa izin dapat berujung pada konsekuensi hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Karena itu, David mengimbau masyarakat menerapkan prinsip “berpikir sebelum mengunggah.”

Sebelum membagikan suatu konten, pengguna perlu memastikan informasi tersebut benar, bermanfaat, tidak menyinggung pihak lain, serta aman diketahui publik dalam jangka panjang.

Ia juga menyarankan masyarakat membiasakan memeriksa fakta sebelum menyebarkan informasi, menjaga etika dalam berkomunikasi, menghormati privasi orang lain, serta mengatur keamanan akun agar ruang digital menjadi lebih sehat dan aman.

Selain pengguna, David menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengenalkan etika bermedia sosial kepada anak sejak dini.

Edukasi mengenai keamanan data pribadi, etika berkomunikasi, serta pentingnya menjaga jejak digital menjadi bekal penting agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Menurutnya, media sosial pada dasarnya menawarkan banyak manfaat, mulai dari memperoleh informasi, memperluas jaringan, hingga membuka peluang ekonomi. Namun, seluruh manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila digunakan secara bijak.

“Setiap unggahan mencerminkan karakter dan nilai yang dimiliki seseorang. Apa yang ditulis hari ini dapat menjadi cerminan diri di masa mendatang,” pungkasnya. (opy)