Harga Telur Tembus Rp31 Ribu di Bandung, Satgas Pangan Telusuri Rantai Pasok hingga Peternak Blitar
Harga telur ayam di Bandung sempat menembus Rp31 ribu per kg. Satgas Saber Pangan Jawa Barat menelusuri rantai pasok hingga produsen dan menekan harga agar kembali ke kisaran HAP.

HALLONEWS.ID – Kenaikan harga telur ayam mulai terasa di pasar tradisional Kota Bandung. Satgas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Jawa Barat menemukan harga telur ayam di tingkat pengecer telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) saat inspeksi di Pasar Kosambi, Bandung, Sabtu (14/3/2026).
Di pasar tersebut, pedagang mengaku menjual telur ayam ras sekitar Rp31.000 per kilogram, atau di atas batas HAP konsumen yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp30.000 per kilogram.
Temuan ini langsung memicu penelusuran cepat oleh Satgas Saber Pangan Jawa Barat. Tim bergerak menelusuri rantai distribusi telur di sekitar Kota Bandung setelah pedagang pasar mengaku menerima pasokan dengan harga yang sudah tinggi dari distributor.
Hasil penelusuran menunjukkan pasokan telur yang beredar di pasar Bandung sebagian besar berasal dari Pasar Induk Caringin serta sejumlah distributor di sekitar Pasar Cikutra.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan investigasi dilakukan untuk memastikan tidak ada praktik yang memicu lonjakan harga secara tidak wajar.
“Hari ini kami bersama Satgas Saber Jawa Barat melakukan penelusuran telur ayam karena harga di pasar mulai melewati HAP. Sesuai arahan Kepala Badan Pangan Nasional Bapak Andi Amran Sulaiman, jika ada anomali harga harus diusut sampai ke distributor dan produsen,” ujar Ketut.
Dari hasil investigasi di tingkat distributor, diketahui bahwa lonjakan harga dipicu oleh fluktuasi harga dari produsen dalam beberapa hari terakhir. Para distributor mengaku menerima harga baru dari peternak yang naik dalam tiga hari terakhir.
Produsen yang memasok telur ke Bandung sebagian besar berasal dari sentra peternakan ayam di Blitar, Jawa Timur.
Satgas kemudian melakukan komunikasi langsung dengan para peternak di Blitar untuk menekan harga di tingkat produsen agar stabil menjelang Idulfitri.
Ketut mengatakan, setelah dilakukan koordinasi bersama aparat kepolisian dan pelaku usaha, produsen dan distributor sepakat menurunkan harga jual.
“Tadi kami sudah komunikasi dengan peternak Blitar. Bersama Direskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Wirdhanto Hadicaksono disepakati harga produsen diturunkan sehingga harga grosir bisa sekitar Rp27.500 per kilogram. Dengan begitu harga di pengecer masih bisa di kisaran Rp30.000 per kilogram,” jelasnya.
Saat ini pemerintah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam ras di tingkat produsen maksimal Rp26.500 per kilogram, sementara HAP di tingkat konsumen dipatok paling tinggi Rp30.000 per kilogram. Ketentuan tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 529 Tahun 2024.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan telur ayam ras masih memberi tekanan terhadap inflasi. Pada Februari 2026, komoditas ini mencatat inflasi tahunan sebesar 5,79 persen dengan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,06 persen.
Namun di sisi lain, tingginya harga juga ikut mendorong perbaikan kesejahteraan peternak. Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor peternakan meningkat menjadi 103,62 pada Februari 2026. Indeks harga yang diterima peternak unggas bahkan melonjak ke level 133,63, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Meski begitu, pemerintah menegaskan harga di tingkat konsumen tetap harus dijaga agar tidak membebani masyarakat, terutama selama Ramadan dan menjelang Idulfitri.
Dalam rilis BPS, rata-rata harga telur ayam ras secara nasional hingga pekan pertama Maret 2026 masih tercatat melampaui HAP. Dari pemantauan di seluruh daerah, hanya 53 kabupaten/kota yang mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga telur ayam ras pada periode tersebut.
Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak ada alasan bagi harga telur ayam untuk melonjak tajam karena produksi nasional saat ini dalam kondisi surplus.
Menurut Amran, produksi telur ayam ras dalam negeri diperkirakan mencapai 7,32 juta ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional sekitar 6,47 juta ton.
“Kita telur ayam sudah surplus, bahkan bisa ekspor. Jadi tidak ada alasan harga naik di masyarakat. Kalau ada kenaikan, saya minta Satgas Saber telusuri sampai distributor dan produsennya,” kata Amran dalam keterangan resmi.
Pemerintah berharap penelusuran rantai distribusi dan kesepakatan penurunan harga dari produsen dapat menahan lonjakan harga telur di pasar, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga selama Ramadan hingga Lebaran. (gaa)
