Kapolri Ngopi Bareng Pecalang dan Ojol, Dengarkan Suara Penjaga Bali dari Garis Depan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memilih berdialog santai sambil ngopi dan makan bersama pecalang serta pengemudi ojol di Bali untuk menyerap aspirasi demi keamanan kawasan wisata.

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:00 WIB
Kapolri Ngopi Bareng Pecalang dan Ojol, Dengarkan Suara Penjaga Bali dari Garis Depan
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo berbincang hangat dengan para pecalang dan komunitas pengemudi ojek online. Foto Humas Polri for Hallonews

HALLONEWS.ID – Di bawah langit cerah Kabupaten Badung, Bali, suasana yang biasanya identik dengan agenda resmi kepolisian berubah menjadi lebih hangat. Tak ada sekat protokoler yang kaku.

Secangkir kopi, hidangan makan siang, dan obrolan santai menjadi penghubung antara Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dengan para pecalang dan komunitas pengemudi ojek online.

Momen itu bukan sekadar silaturahmi. Di meja yang sama, Kapolri memilih mendengar lebih banyak daripada berbicara. Satu per satu aspirasi mengalir, mulai dari persoalan keamanan di kawasan wisata hingga tantangan yang dihadapi pengemudi ojek online dalam mencari nafkah.

Bagi masyarakat Bali, pecalang bukan hanya penjaga adat. Mereka adalah wajah kearifan lokal yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban desa adat.

Sementara pengemudi ojek online merupakan denyut kehidupan sektor pariwisata modern yang setiap hari mengantar wisatawan menjelajahi Pulau Dewata.

Kapolri menyadari keduanya memiliki peran yang sama pentingnya. Karena itu, dialog dilakukan dalam suasana yang akrab, tanpa jarak.

“Saya ingin mendengarkan langsung situasi dan kondisi, khususnya terkait keamanan serta pasca-penyesuaian tarif ojek online maupun persoalan lain yang menjadi perhatian masyarakat,” ujar Sigit.

Dalam perbincangan tersebut, Ketua Manggala Pecalang Wayan Suarya menyampaikan kebanggaannya karena lebih dari 27 ribu pecalang di Bali siap terus bersinergi dengan Polri menjaga keamanan desa adat maupun kawasan wisata.

Di sisi lain, para pengemudi ojek online menyampaikan persoalan yang mereka hadapi setiap hari.

Mulai dari keterbatasan lokasi parkir di kawasan wisata hingga keresahan akibat masih adanya aksi penjambretan di sejumlah ruas jalan pada malam hari.
Kapolri merespons setiap masukan dengan serius.

Ia langsung meminta Kapolda Bali menindaklanjuti persoalan parkir agar tidak terus menjadi sumber konflik di lapangan. Bahkan, ia mengusulkan mekanisme parkir yang lebih tertata sehingga biayanya dapat diintegrasikan melalui aplikasi.

Suasana diskusi tetap cair. Sesekali terdengar tawa di sela-sela obrolan, menunjukkan bahwa komunikasi yang dibangun bukan sekadar hubungan antara aparat dan masyarakat, melainkan kemitraan yang saling menghargai.

Kapolri juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan layanan darurat Polri 110 apabila masyarakat menghadapi tindak kejahatan maupun keadaan darurat.

Menurutnya, respons cepat hanya bisa terwujud jika komunikasi antara masyarakat dan kepolisian berjalan baik.

Bagi Jenderal Sigit, keamanan Bali bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat.

Pecalang, pengemudi ojek online, pelaku pariwisata, hingga masyarakat memiliki peran yang sama dalam menjaga citra Pulau Dewata sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Karena itulah, momen ngopi dan makan bersama di Badung menjadi simbol bahwa keamanan dapat dibangun dari kedekatan, dialog, dan kepercayaan.

Bukan hanya melalui patroli dan penegakan hukum, tetapi juga lewat kesediaan untuk duduk semeja, mendengar, lalu mencari solusi bersama.

Di penghujung pertemuan, Kapolri kembali mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keramahan, kebersihan, dan keamanan Bali.

Baginya, tiga hal itulah yang membuat Pulau Dewata tetap menjadi magnet wisatawan dari berbagai penjuru dunia sekaligus menjadi rumah yang nyaman bagi masyarakatnya. (min)