Karhutla Kepung Tiga Provinsi, BNPB: Cuaca Ekstrem Tewaskan Warga Subang
BNPB melaporkan karhutla melanda Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Aceh. Cuaca ekstrem di Subang juga menewaskan satu warga, masyarakat diminta tetap waspada.

HALLONEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana paling dominan di Indonesia dalam 24 jam terakhir.
Selain karhutla, cuaca ekstrem menyebabkan korban jiwa di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan laporan bencana yang dihimpun sejak Selasa (14/7) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (15/7) pukul 07.00 WIB didominasi kejadian yang dipicu faktor hidrometeorologi.
“Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kebakaran melanda lahan tebu seluas sekitar 4 hektare di Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro. Api berhasil dipadamkan pada hari sama,” kata Abdul Muhari, Rabu (15/7/2026).
Sementara di Kalimantan Selatan, karhutla terjadi di beberapa lokasi. Di Kota Banjarbaru, kebakaran melanda Kelurahan Cempaka dan Kelurahan Landasan Ulin Timur dengan total lahan terbakar mencapai 12,6 hektare.
Sebagian titik api berhasil dipadamkan, sementara proses pemadaman di Landasan Ulin Timur masih terus berlangsung. “Karhutla juga terjadi di wilayah Kabupaten Banjar, tepatnya di Kelurahan Tungkaran, Kecamatan Martapura,” ungkapnya.
BNPB mencatat sekitar 10 hektare lahan terbakar sebelum akhirnya api berhasil dikendalikan oleh petugas. Di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, kebakaran lahan seluas 1 hektare terjadi di Desa Gayo Murni, Kecamatan Atu Lintang.
“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun api telah berhasil dipadamkan pada Selasa petang,” bebernya.
Selain kebakaran lahan, BNPB melaporkan cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang menerjang Desa Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Peristiwa itu menyebabkan pohon tumbang, merusak fasilitas umum mengakibatkan satu orang tewas.
Tim BPBD telah mengevakuasi korban dan melakukan pembersihan material pohon yang menutup akses. Abdul Muhari mengimbau pemerintah daerah bersama masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Menurutnya, langkah mitigasi, kesiapsiagaan, dan kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat. “Maysrakat tetap waspada dan mengikuti arahan dari pemerintah,” tandasnya. (dul)
