Mambalun di Mamasa Digelar Tiap Tahun, Namun Tak Semua Keluarga Melakukannya
Mambalun merupakan tradisi masyarakat di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Meski digelar tiap tahun, tidak semua keluarga mengikutinya.

HALLONEWS.ID – Mambalun merupakan salah satu tradisi yang melekat dalam kehidupan sehari-hari di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Ritual ini terus dilakukan secara turun temurun sebagai bagian integral dari identitas budaya Mamasa.
Tradisi ini biasanya dilakukan setiap tahun, namun tidak semua keluarga melakukannya setiap tahun.
Seperti Mambalun Keluarga Keturunan Pana-Sara di Rante Induk, Kelurahan Tawalian, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, Rabu (1/4/2026) dan Kamis (2/4/2026). Terakhir mereka melakukannya pada tahun 2009.
“Saat mambalun, setidaknya keluarga harus menyiapkan minimal satu atau dua ekor kerbau dan babi,” kata Tokoh Adat Tawalian, Alexius P di sela-sela mambalun, Rabu (1/4/2026).
Dani Malia (keturunan keenam Malia) mengatakan, terakhir mambalun pada tahun 2009 ketika tulang belulang Malia atau Ambe Milla (bapak dari Milla), keturunan kedua keluarga Pana-Sara, dipindahkan dari dalam tanah ke makam keluarga yang berjarak sekitar 10 meter.
Untuk melakukan ritual ini pihak keluarga harus menyediakan atau memotong kerbau.

foto : Keturunan Pana-Sara dari Kecamatan Simbuang, Tana Toraja, yang telah mencapai generasi ketujuh menggelar ritual membalun, awal April 2026.
Dokter Anita Elisabeth SpKj membawa tulang belulang leluhurnya Malia. Tanpa rasa takut, ia memeluk buntalan sambu hitam berukuran paling kecil leluhurnya, Malia. Ia membawa dan meletakkan di atas tumpukan kain.
Anita merupakan keturunan keenam ini sengaja datang dari Manado untuk ikut membalun tulang belulang dari leluhurnya. Ia berani memeluk buntalan itu, sementara kakak dan sepupu perempuannya tidak berani.
“Acara seperti ini sangat jarang terjadi. Kalau tidak salah, sekitar hampir 20 tahun yang lalu, saat Ambe Milla dipindahkan dari tanah ke makam keluarga. Enggak tahu kapan lagi akan ada cara seperti ini lagi,” kata Anita.
Anita tidak mengenal Ambe Milla, anak tertua (keturunan kedua) Pana-Sara. Tetapi, ia mengetahui ciri-ciri leluhur keturunannya dari cerita Ette Malia (keturunan kelima). Sosok orang dengan ciri-ciri leluhurnya ini beberapa kali datang dalam mimpi Anita.
Alexius mengatakan, mambalun dibagi dalam beberapa kategori, tergantung banyaknya kerbau yang dipotong.
Mambalun yang dilakukan keluarga besar Pana-Sara masuk dalam kategori mambalun biasa atau butu karena mengorbankan seekor kerbau. Selain kerbau rumpun keluarga ini memotong 13 babi di luar babi yang disembelih bersama anjing dan ayam saat awal ritual ini.
Biasanya, mambalun dilakukan untuk jenazah yang baru meninggal atau jasad dan tulang belulang yang sudah lama meninggal. ***
(Pingkan Elita Dundu, Wartawan dari Tangerang)
