Melihat dari Dekat Tradisi Mambalun, Warna Merah Jadi Simbol Keagungan

Mambalun merupakan salah satu tradisi di Sulawesi Barat yang dilakukan secara turun temurun sebagai bagian integral dari identitas budaya Mamasa.

Selasa, 28 April 2026 - 11:00 WIB
Melihat dari Dekat Tradisi Mambalun, Warna Merah Jadi Simbol Keagungan
Proses menyulam nama dari kain yang digunakan untuk membalun leluhur di Mamasa, Sulbar. Foto: Pingkan Elita Dundu for Hallonews

HALLONEWS.ID – Mambalun merupakan salah satu tradisi di Mamasa, Sulawesi Barat, yang dilakukan secara turun temurun sebagai bagian integral dari identitas budaya Mamasa.

Pada awal April 2026, keluarga keturunan Pana-Sara di Rante Induk, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, kembali menggelar Mambalun. Terakhir mereka melakukan kegiatan ini pada tahun 2009.

Mambalun tulang belulang leluhur dilakukan oleh tokoh adat yang bertugas sebagai pembalun.

Setelah pembalun menyelesaikan tugasnya, perwakilan keluarga dari masing-masing rumpun keluarga Pana-Sara ikut menjahit pada setiap pinggiran kain. Dalam tradisi mambalun ini dilakukan di Rante Induk, Tawalian, Mamasa, Sulawesi Barat, Rabu (1/4/2026).

Pihak keluarga juga menambahkan jahitan huruf nama dari leluhur dan keluarganya. Jasad-dan tulang belulang yang sudah terbalun membentuk buntalan-buntalan merah. Paduan warna yang kontras, merah dari kain sambu dan benang putih. Rapi dan indah.

Selanjutnya, satu per satu buntalan dipindahkan ke tempat persemayaman yang dibuat darurat dari bambu, tepatnya di depan makam. Kain merah mengelilingi tempat persemayam dan beralaskan karpet merah.

“Warna merah memberikan simbol kejayaan, keagungan, dan kemegahan untuk para leluhur dan keluarga yang sudah meninggal,” kata Tokoh Masyarakat Tawalian, Demianus Solon, Rabu (1/4/2026).

Proses membalun berlangsung sejak pukul 06.30 hingga malam. Selanjutnya, disemayamkan semalam di situ. Keesokan hari, sebelum fajar merekah satu persatu buntalan masuk dalam makam.

Malam hari, sejumlah lelaki memilih tinggal di tempat itu. Mereka berjaga-jaga jangan sampai ada jasad yang hilang karena dicuri orang. Kaum perempuan memilih pulang ke rumah dan datang lagi keesokan hari.

Biasanya, kaum lelaki melakukan ma’badong (senandung yang disertai gerak yang mengadung unsur pemujaan). Mereka tidak melaksanakan ritual itu.

Kembali ke Dalam Makam

Keesokan hari, sekitar pukul 04.00 WITA dini hari, Kamis (2/4/2026), satu per satu keluarga mulai berdatangan kembali ke pemakaman tua itu.

Sepanjang jalan menanjak menuju ke kubur tua gelap gulita.

Langit tampak hitam pekat karena semalaman hujan. Bintang-bintang seolah enggan menghiasi langit. Bantuan cahaya telepon genggam tak banyak membantu.

Bak kunang-kunang berukuran besar hanya memancarkan cahayanya temaram.

Kabut putih membungkus alam dini hari itu. Sisa curah hujan dengan identitas cukup tinggi membuat jalanan tanah liat yang menanjak ke pekuburan tua becek dan licin. Sesekali ada orang yang terpeleset.

Sebelum fajar menyingsing, sekitar pukul 04.30 WITA, satu per satu keluarga mulai mengambil buntalan leluhur dan keluarganya.

Pemandu ritual menuntun keluarga memasukkan buntalan-buntalan dalam makam.

Lampu sorot yang telah dipasang dalam makam mempermudah pengaturan tata letak buntalan berdasarkan urut waktu meninggal. Buntalanu lang belulang yang paling lama menempati bagian belakang.
Setelah semua buntalan sudah masuk, pemandu ritual menggembok pintu makam.

Dalam tradisi mambalun, setelah jasad sudah masuk dalam makam diakhiri dengan memotong kerbau dan babi. Daging tersebut dimasak. Selanjutnya, semua anggota keluarga menyelenggarakan ibadah pengucapan syukur dan diakhiri dengan makan bersama keluarga. *
(Pingkan Elita Dundu, Wartawan dari Tangerang)