Wabah Tungau Varroa Ancam Pertanian Australia, IPB: Indonesia Harus Perkuat Biosekuriti

Wabah tungau varroa di Australia memicu krisis polinasi dan mengancam produksi pertanian. Pakar IPB mengingatkan Indonesia untuk memperkuat biosekuriti dan diversifikasi penyerbuk

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:00 WIB
Wabah Tungau Varroa Ancam Pertanian Australia, IPB: Indonesia Harus Perkuat Biosekuriti
Pakar IPB ingatkan wabah tungau varroa ancam pertanian. (Foto: Humas IPB for hallonews)

HALLONEWS.ID – Wabah tungau varroa (Varroa destructor) yang menyerang lebah madu di Australia kian mengkhawatirkan. Hama parasit tersebut tidak hanya menyebabkan keruntuhan koloni lebah secara massal, tetapi juga mengancam sektor pertanian yang bergantung pada jasa penyerbukan.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Ronny Rachman Noor, mengungkapkan bahwa Australia diperkirakan menghadapi krisis polinasi serius pada 2026.

Negara tersebut diprediksi mengalami kekurangan sekitar 290 ribu sarang lebah menjelang puncak musim penyerbukan pada Agustus akibat penyebaran tungau varroa yang terus meluas.

Menurutnya, dampak wabah tersebut telah dirasakan secara signifikan oleh industri perlebahan di Australia.

Lebih dari separuh peternak lebah dilaporkan terpaksa menghentikan usahanya karena tingginya biaya pengendalian, menurunnya efektivitas obat akibat resistensi, serta hilangnya ratusan ribu sarang lebah.

“Penyebaran tungau varroa yang sangat cepat ini telah memberikan dampak besar dan menyakitkan bagi industri lebah madu di Australia,” kata Prof Ronny dikutip wartawan media ini Sabtu (20/6/2026).

Secara ekonomi, keberadaan lebah madu memiliki peran vital bagi pertanian Australia. Jasa penyerbukan yang dilakukan lebah diperkirakan berkontribusi sekitar AUD 14,2 miliar per tahun terhadap sektor pertanian.

Penurunan populasi lebah berpotensi menurunkan produktivitas berbagai komoditas yang sangat bergantung pada proses polinasi, seperti almond, apel, ceri, buah batu (stone fruit), dan alpukat.

Kondisi tersebut dapat memicu penurunan hasil panen, kenaikan harga pangan, hingga meningkatnya ketergantungan terhadap impor produk pertanian.

Prof Ronny menjelaskan bahwa tungau varroa merupakan parasit yang hidup pada lebah madu (Apis mellifera).

Hama ini menempel pada tubuh lebah dewasa dan berkembang biak di dalam sel larva yang tertutup lilin, terutama pada sarang lebah jantan yang memiliki masa perkembangan lebih panjang.

Selain mengisap hemolimfa atau cairan tubuh lebah, tungau varroa juga berperan sebagai pembawa berbagai virus yang berbahaya bagi koloni.

“Tungau varroa melemahkan sistem kekebalan tubuh lebah dan menyebarkan sejumlah virus yang dapat mempercepat kematian koloni,” jelasnya.

Tantangan lain yang dihadapi Australia adalah munculnya resistensi tungau terhadap sejumlah bahan kimia pengendali.

Populasi varroa di beberapa wilayah, seperti New South Wales dan Queensland, dilaporkan sudah tidak lagi efektif dikendalikan menggunakan senyawa pyrethroid maupun amitraz.

Sejak pertama kali terdeteksi pada 2022, wabah ini disebut telah menyebabkan keruntuhan lebih dari 60 persen koloni lebah di sejumlah wilayah terdampak.

Sebagai langkah penanganan, Prof Ronny mendorong penerapan integrated pest management (IPM) atau pengelolaan hama terpadu melalui kombinasi metode kimia, organik, dan mekanis yang disertai pemantauan populasi secara berkala.

Penggunaan asam organik, pengembangan lebah yang lebih tahan terhadap varroa, dukungan pendanaan, hingga pemanfaatan teknologi bioteknologi juga dinilai penting sebagai solusi jangka panjang.

Lebih lanjut, ia menilai pengalaman Australia perlu menjadi perhatian bagi Indonesia agar tidak menghadapi ancaman serupa di masa mendatang.

Menurutnya, penguatan biosekuriti harus dilakukan untuk mencegah masuknya tungau varroa melalui impor lebah maupun produk perlebahan.

Selain itu, sistem surveilans nasional perlu diperkuat guna mendeteksi keberadaan hama lebah sejak dini.

Prof Ronny juga menekankan pentingnya diversifikasi penyerbuk dengan melibatkan lebah lokal dan berbagai jenis serangga penyerbuk lainnya, sehingga sektor pertanian tidak bergantung sepenuhnya pada lebah madu.

“Indonesia perlu belajar dari krisis ini dengan memperkuat biosekuriti, meningkatkan riset, serta mengembangkan sistem penyerbukan yang lebih beragam agar mampu menghadapi ancaman serupa di masa depan,” pungkasnya. (opy)