Anjing Pemburu Diduga Serang Anak di Jasinga, Pakar IPB Tekankan Pentingnya Vaksinasi Rabies

Kasus dugaan serangan anjing pemburu yang menewaskan seorang anak di Jasinga, Bogor, menjadi sorotan. Pakar IPB University menekankan pentingnya vaksinasi rabies, pengawasan kesehatan hewan, dan edukasi masyarakat untuk mencegah kejadian serupa.

Jumat, 12 Juni 2026 - 7:00 WIB
Anjing Pemburu Diduga Serang Anak di Jasinga, Pakar IPB Tekankan Pentingnya Vaksinasi Rabies
anjing pemburu divaksin. (Humas IPB for hallonews)

HALLONEWS.ID – Kasus dugaan serangan anjing pemburu yang menewaskan seorang anak di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran terkait keamanan pemeliharaan anjing pemburu di sekitar permukiman serta pentingnya upaya pencegahan penyakit zoonosis, khususnya rabies.

Menanggapi kejadian itu, dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Dr drh Agus Wijaya, menilai bahwa kesehatan hewan harus menjadi perhatian utama, terutama terkait pelaksanaan vaksinasi rabies pada anjing pemburu.

Menurutnya, masih terdapat kendala dalam penerapan vaksinasi rabies secara rutin pada sebagian anjing pemburu.

Padahal, vaksinasi merupakan langkah dasar untuk menjaga kesehatan hewan sekaligus melindungi masyarakat dari risiko penularan penyakit.

“Vaksinasi rabies perlu dilakukan secara disiplin karena menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi hewan maupun manusia di sekitarnya,” ujarnya Kamis (11/6/2026).

Dr Agus menjelaskan bahwa perilaku agresif pada anjing dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Selain kondisi kesehatan yang tidak terpantau dengan baik, interaksi yang kurang tepat antara manusia dan hewan juga berpotensi memicu serangan.

Ia menuturkan, masih ada pemilik anjing pemburu yang enggan melakukan vaksinasi karena khawatir kondisi fisik anjing menurun setelah penyuntikan vaksin. Padahal, efek tersebut umumnya hanya bersifat sementara.

Di sisi lain, anak-anak sering kali belum memahami cara berinteraksi yang aman dengan hewan.

Perilaku yang dianggap mengganggu atau membuat anjing merasa terancam dapat memicu respons agresif.

Selain risiko serangan fisik, Dr Agus mengingatkan adanya potensi penyebaran rabies apabila kesehatan anjing pemburu tidak diawasi dengan baik.

Menurutnya, ancaman penyakit tersebut dapat meningkat jika vaksinasi tidak dilakukan secara berkala.

Karena itu, pengawasan kesehatan hewan harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan anjing pemburu, terutama yang dipelihara di lingkungan yang berdekatan dengan permukiman warga.

Untuk mencegah kejadian serupa, Dr Agus menekankan pentingnya peran pemilik hewan dalam memastikan anjing peliharaan tetap terkendali dan memperoleh perlindungan kesehatan yang memadai.

Ia menyarankan agar anjing mendapatkan vaksinasi rabies secara rutin serta ditempatkan di area yang aman sehingga tidak berkeliaran bebas dan berpotensi membahayakan masyarakat.

Selain itu, ia mendorong adanya kerja sama antara pemerintah daerah, komunitas pemburu, dan masyarakat dalam memperkuat program pengendalian rabies.

“Program vaksinasi harus dilakukan secara berkelanjutan, disertai edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya rabies dan cara pencegahannya,” katanya.

Melalui pengelolaan hewan yang bertanggung jawab, peningkatan kesadaran masyarakat, serta pelaksanaan vaksinasi yang konsisten, risiko serangan hewan maupun penyebaran rabies diharapkan dapat diminimalkan sehingga tercipta lingkungan yang lebih aman bagi masyarakat dan hewan peliharaan. (opy)