Defiyan Cori: Pelemahan Rupiah Tak Serta-Merta Berdampak Langsung pada Seluruh Masyarakat
Ekonom konstitusi Defiyan Cori menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak otomatis berdampak luas pada masyarakat. Menurutnya, pengaruh terbesar hanya dirasakan sektor yang bergantung pada impor dan kepemilikan aset dolar.

HALLONEWS.ID – Ekonom konstitusi Defiyan Cori menilai sejumlah analisis yang berkembang terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih kurang tepat dan tidak menempatkan persoalan sesuai konteks ekonomi yang sebenarnya.
Menurutnya, sebagian pengamat ekonomi terlalu cepat menghubungkan pelemahan rupiah dan penurunan indeks saham dengan kebijakan ekonomi pemerintah tanpa didukung argumentasi yang kuat.
Ia menilai pendekatan tersebut berpotensi menimbulkan kesimpulan yang keliru dalam menilai kondisi perekonomian nasional.
Defiyan mengatakan perekonomian Indonesia memang tidak dapat dipisahkan dari dinamika global.
Namun, ia menegaskan bahwa menganggap faktor eksternal sebagai penyebab dominan seluruh persoalan ekonomi domestik juga merupakan penyederhanaan yang berlebihan.
“Perekonomian nasional memang memiliki keterkaitan dengan ekonomi global, tetapi tidak semua gejolak eksternal secara otomatis berdampak besar terhadap seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada dasarnya lebih banyak memengaruhi sektor-sektor yang memiliki kandungan impor tinggi.
Dampak serupa juga dirasakan pihak-pihak yang menyimpan aset atau kewajiban dalam denominasi dolar AS.
Sebaliknya, masyarakat yang aktivitas ekonominya tidak bergantung pada barang impor dinilai tidak merasakan dampak secara langsung.
Karena itu, menurut Defiyan, tidak tepat jika setiap pelemahan rupiah selalu digambarkan sebagai ancaman yang secara merata memukul seluruh rakyat.
Defiyan juga menyoroti pandangan sejumlah ekonom yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan menurunnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah.
Ia mempertanyakan penggunaan indikator kepercayaan pasar sebagai faktor utama dalam menjelaskan pergerakan nilai tukar.
Menurutnya, konsep kepercayaan pasar bersifat psikologis dan sulit diukur secara objektif sebagai instrumen ekonomi makro.
Oleh sebab itu, penggunaan faktor tersebut perlu disertai parameter yang jelas agar tidak menimbulkan interpretasi yang spekulatif.
Ia berpendapat bahwa pergerakan kurs lebih relevan dianalisis melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar uang.
Selain itu, aktivitas perburuan keuntungan dari selisih nilai tukar dan tingkat imbal hasil antar mata uang juga dinilai menjadi faktor yang patut diperhatikan.
“Pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi sentimen, tetapi juga aktivitas pelaku pasar yang mencari keuntungan dari perbedaan tingkat pengembalian aset dan mata uang,” katanya.
Karena itu, Defiyan menilai pembahasan mengenai pelemahan rupiah perlu dilakukan secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan faktor fundamental ekonomi serta perilaku pasar keuangan, bukan semata-mata bertumpu pada aspek psikologis atau persepsi pelaku pasar. (opy)
