PINTU Incubator 2026 Perkuat Kolaborasi Mode Indonesia–Prancis, Bentuk Yayasan untuk Dukung Talenta Fashion

PINTU Incubator 2026 memperkuat kolaborasi mode Indonesia-Prancis melalui inkubasi, residensi, dan pembentukan yayasan guna mendukung talenta fashion nasional.

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:00 WIB
PINTU Incubator 2026 Perkuat Kolaborasi Mode Indonesia–Prancis, Bentuk Yayasan untuk Dukung Talenta Fashion
PINTU perkuat kolaborasi mode Indonesia -Perancis. Foto: PINTU for Hallonews

HALLONEWS.ID – PINTU Incubator kembali memperkuat posisinya sebagai penghubung industri mode Indonesia dan Prancis.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, program ini tidak hanya memperluas pengembangan talenta dan kolaborasi internasional, tetapi juga memulai proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia sebagai langkah memperkuat keberlanjutan ekosistem fashion nasional.

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers di JF3 Media Lounge, Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, menjelang pelaksanaan JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung pada 22–29 Juli.

PINTU Incubator merupakan kolaborasi JF3 Fashion Festival, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI).

Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik lebih dari 10.000 brand dan desainer dari berbagai daerah di Indonesia.

Pada 2026, sebanyak 39 peserta mendaftar. Setelah melalui proses seleksi, 10 peserta mengikuti program inkubasi, sementara lima peserta terbaik terpilih menampilkan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026, yakni Saul Studio, Toja House, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.

Para peserta mendapatkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, komunikasi, hukum kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, hingga styling. Seluruh materi didampingi 18 mentor dari Indonesia dan Prancis yang berasal dari berbagai bidang industri kreatif.

Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, mengatakan PINTU dirancang untuk membantu peserta menemukan karakter dan arah perkembangan masing-masing.

“Kami percaya bahwa talenta berkembang melalui pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat. Harapan kami bukan hanya melahirkan koleksi yang baik, tetapi juga pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri,” ujar Thresia.

Sementara itu, Chairman JF3 Fashion Festival sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria, menegaskan pentingnya membangun ekosistem yang berkelanjutan bagi industri mode Indonesia.

Menurutnya, PINTU menjadi ruang yang mempertemukan talenta dengan mentor, jejaring profesional, pengalaman industri, serta peluang kolaborasi internasional sehingga mampu mendukung pertumbuhan pelaku mode dalam jangka panjang.

Selain program inkubasi, PINTU juga menghadirkan jalur Accelerator yang membuka kolaborasi lintas negara. Tahun ini, brand DENIMITUP bekerja sama dengan label asal Prancis TAREET, sementara Lil Public mendapat kesempatan menampilkan karya pada pertunjukan tahunan École Duperré di Paris.

Program PINTU Residency turut mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis selama empat bulan. Hasilnya, lahir koleksi GARUDA karya Mickaël Nana dan Beatrice Angelica yang memadukan tailoring Barat dengan tenun Lombok, serta koleksi AU LARGE karya Lisa Rayar dan Gabriel Marcella yang menggabungkan batik Jawa dengan inspirasi budaya maritim Prancis.

Kedua koleksi tersebut akan diperkenalkan untuk pertama kalinya dalam JF3 Fashion Festival 2026.

Melalui pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia, program ini diharapkan mampu memperluas dampak pembinaan, memperkuat kolaborasi Indonesia–Prancis, serta melahirkan lebih banyak talenta yang siap bersaing di industri fashion global.(srv)