Pakar IPB Jelaskan Cara Kerja Modifikasi Cuaca, Bukan Menciptakan Hujan dari Nol

Guru Besar FMIPA IPB University Prof Yonny Koesmaryono menjelaskan bahwa modifikasi cuaca bukan menciptakan hujan dari nol, melainkan mengintervensi proses fisika pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:30 WIB
Pakar IPB Jelaskan Cara Kerja Modifikasi Cuaca, Bukan Menciptakan Hujan dari Nol
Guru Besar FMIPA IPB University Prof Yonny Koesmaryono. Foto Humas IPB/Hallonews

HALLONEWS.ID – Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University Prof Yonny Koesmaryono menegaskan bahwa teknologi modifikasi cuaca bukanlah upaya menciptakan hujan dari kondisi atmosfer yang tidak memiliki potensi awan.

Teknologi ini bekerja dengan mengintervensi proses fisika yang secara alami terjadi di atmosfer.

“Modifikasi cuaca adalah membuat perubahan dari sesuatu yang sudah ada. Jadi bukan membuat hujan atau membuat air, tetapi memodifikasi proses yang terjadi di atmosfer,” ujar Prof Yonny, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, hujan terbentuk melalui siklus hidrologi, yaitu proses penguapan air dari laut, sungai, danau, maupun daratan ke atmosfer.

Uap air tersebut kemudian mengalami pendinginan dan membentuk awan.
Namun, tidak semua awan dapat menghasilkan hujan.

Dalam teknologi modifikasi cuaca, intervensi dilakukan pada awan yang memiliki potensi berkembang menjadi hujan, seperti awan kumulus.

Prof Yonny menjelaskan, proses tersebut dilakukan dengan menambahkan bahan higroskopis atau aerosol yang berfungsi sebagai inti kondensasi.

Kehadiran partikel-partikel tersebut membantu mempercepat dan mengoptimalkan pertumbuhan awan sehingga peluang terjadinya hujan meningkat.

“Yang kita lakukan adalah mengintervensi proses fisika di awan agar pertumbuhannya bisa terkendali. Jadi bukan membuat hujan dari nol,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer. Atmosfer yang tidak stabil lebih mendukung pembentukan dan pertumbuhan awan karena proses penguapan berlangsung lebih intensif.

Sebaliknya, pada kondisi atmosfer yang stabil, awan cenderung sulit berkembang sehingga efektivitas intervensi menjadi lebih rendah.

Karena itu, sebelum operasi modifikasi cuaca dilakukan, tim terlebih dahulu mengukur kondisi atmosfer menggunakan berbagai instrumen, termasuk balon cuaca.

“Pengukuran tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat stabilitas udara sehingga operasi dapat dilakukan pada waktu dan lokasi yang tepat,” terangnya.

Lebih lanjut, Prof Yonny mengatakan teknologi modifikasi cuaca juga dimanfaatkan untuk membantu mengurangi dampak cuaca ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi. Namun, efektivitas intervensi akan berkurang apabila badai atau sistem cuaca telah berkembang menjadi sangat kuat.

“Teknologi modifikasi cuaca adalah upaya memanfaatkan awan yang tumbuh untuk kepentingan manusia serta mengurangi potensi dampak bencana, baik pada musim hujan maupun musim kemarau,” pungkasnya. (opy).