Green and Smart Port Diproyeksikan Jadi Standar Wajib Pelabuhan Indonesia
Sertifikasi Green and Smart Port diproyeksikan menjadi standar pelabuhan nasional guna meningkatkan daya saing, efisiensi distribusi, dan keberlanjutan sektor logistik.

HALLONEWS.ID – Pemerintah mulai mengakselerasi transformasi pelabuhan nasional melalui penerapan konsep Green and Smart Port.
Meski saat ini sertifikasi masih bersifat sukarela, pemerintah membuka peluang menjadikannya sebagai standar wajib bagi seluruh pelabuhan di Indonesia pada masa mendatang.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud mengatakan sertifikasi Green and Smart Port akan terus didorong agar semakin banyak operator pelabuhan menerapkannya.
“Pada waktunya nanti berpotensi bisa menjadi suatu kewajiban ketika hampir semua pelabuhan atau fasilitas dermaga dan pelabuhan itu sudah tersertifikasi,” kata Masyhud dalam peluncuran Green and Smart Port Initiatives (GSPI) ASRI 2026 di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, penerapan standar pelabuhan hijau dan cerdas tidak hanya bertujuan menciptakan pelabuhan yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya saing sektor logistik dan kepelabuhanan Indonesia di tingkat global.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Pangan Tatang Yuliono menegaskan transformasi pelabuhan merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ia menjelaskan pemerintah terus membangun sistem logistik yang lebih efisien melalui penerapan teknologi digital dan praktik ramah lingkungan di kawasan pelabuhan.
“Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah mendorong penerapan konsep Green and Smart Port atau pelabuhan hijau dan cerdas sebagai penopang distribusi pangan yang lebih efisien, modern, dan ramah lingkungan,” ujar Tatang.
GSPI ASRI 2026 merupakan tindak lanjut dari asesmen Green and Smart Port 2025 yang dilakukan IDSurvey terhadap delapan pelabuhan, yakni PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Krakatau Bandar Samudera, PT Vale Indonesia, PT Pelindo Petikemas TPK Banjarmasin, PT Indonesia Kendaraan Terminal, PT Pelindo Multi Terminal Branch Tanjung Intan, dan Terminal Petikemas Bitung.
Menurut Tatang, penerapan konsep tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan, menekan biaya logistik, memperkuat daya saing nasional, sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.
Ia menambahkan, pelabuhan memiliki peran vital sebagai simpul distribusi komoditas pangan dari sentra produksi menuju daerah konsumsi hingga pasar ekspor.
“Keberhasilan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kelancaran distribusi. Green and Smart Port akan membuat distribusi pangan lebih cepat, efisien, aman, dan terukur,” tegasnya. (agn)
