Sekolah Jadi Awal Budaya Hidup Sehat, Kemendikdasmen dan BPOM Perkuat Edukasi Pangan Aman

Kemendikdasmen dan BPOM meluncurkan Program SAPA Sekolah Berbasis Budaya untuk menanamkan budaya sadar pangan aman, sehat, dan bergizi sejak dini demi mendukung Generasi Emas 2045.

Rabu, 1 Juli 2026 - 12:00 WIB
Sekolah Jadi Awal Budaya Hidup Sehat, Kemendikdasmen dan BPOM Perkuat Edukasi Pangan Aman
Kepala BPOM, Taruna Ikrar (Foto: Kemendikdasmen for Hallonews).

HALLONEWS.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kolaborasi dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan sekolah melalui edukasi pangan aman sejak usia dini.

Langkah tersebut diwujudkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sekaligus peluncuran sejumlah program yang mendukung keamanan pangan bagi peserta didik.

Program yang diluncurkan meliputi Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah Berbasis Budaya, Gerakan 1.000 Kader Edukasi Pangan Aman Menggunakan Bahasa Daerah, serta tiga pedoman pelaksanaan keamanan pangan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sekaligus karakter peserta didik.

Menurutnya, edukasi mengenai pangan aman perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak tidak hanya memilih makanan berdasarkan rasa atau tampilan.

“Problem kita, anak-anak sering lebih banyak memilih food for fun tanpa sadar kandungan gizinya. Karena itu, budaya hidup sehat dan sadar pangan menjadi penting,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan sederhana, seperti membaca komposisi bahan, mengecek kandungan gizi, dan memperhatikan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli makanan, merupakan bagian dari pendidikan karakter. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat membentuk generasi yang lebih kritis, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kesehatan.

Abdul Mu’ti menegaskan kerja sama antara Kemendikdasmen dan BPOM bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Kami ingin anak-anak terbiasa melihat ingredients dan tanggal kedaluwarsa saat membeli produk makanan. Ini membangun sikap kritis dan tanggung jawab. Mudah-mudahan MoU ini menjadi awal membangun budaya hidup sehat bagi Generasi Emas Indonesia 2045,” katanya.

Program ini juga mendukung berbagai kebijakan prioritas Kemendikdasmen, seperti Program Sekolah Sehat, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pembangunan budaya sekolah yang aman dan nyaman, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis yang kini terus diperluas.

Sementara itu, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa edukasi keamanan pangan masih menghadapi tantangan besar. Dari sekitar 260 ribu sekolah di Indonesia, BPOM baru dapat menjangkau sekitar 60 ribu sekolah secara langsung.

Karena itu, sinergi dengan dunia pendidikan menjadi solusi untuk memperluas jangkauan edukasi kepada jutaan peserta didik di seluruh Indonesia.

“Pembudayaan keamanan pangan di sekolah sejak dini menjadi salah satu solusi permasalahan keamanan pangan. Pendidikan mengenai budaya makan sehat dan bergizi wajib diajarkan sejak awal,” ujar Taruna.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga memanfaatkan pendekatan budaya agar pesan mengenai keamanan pangan lebih mudah diterima masyarakat. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menilai penggunaan bahasa daerah, seni pertunjukan, hingga cerita rakyat dapat menjadi media edukasi yang efektif.

Menurutnya, kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kesadaran publik mengenai pentingnya memilih pangan yang aman dan sehat.

Melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga ini, sekolah diharapkan menjadi tempat yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup sehat.

Edukasi sederhana seperti membaca label kemasan dan memeriksa tanggal kedaluwarsa diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter menuju visi Generasi Emas 2045.(srv)