Viral! Udang Berhamburan ke Permukaan Sungai di Kalsel, Guru Besar IPB Ungkap Pemicunya

Guru Besar IPB University Prof Sri Nuryati menjelaskan fenomena viral udang galah yang naik ke permukaan sungai di Kalimantan Selatan diduga dipicu krisis oksigen di dasar perairan akibat penurunan kualitas air

Jumat, 3 Juli 2026 - 21:00 WIB
Viral! Udang Berhamburan ke Permukaan Sungai di Kalsel, Guru Besar IPB Ungkap Pemicunya
udang di Kalimantan naik ke darat diduga kehabisan oksigen. (Foto: Humas IPB for hallonews)

HALLONEWS.ID – Fenomena kemunculan ratusan udang ke permukaan hingga ke daratan di salah satu sungai di Kalimantan Selatan yang sempat viral di media sosial mendapat perhatian kalangan akademisi.

Guru Besar Budidaya Perairan IPB University, Prof Sri Nuryati, menilai peristiwa tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan penurunan kualitas lingkungan perairan.

Menurut Prof Sri, udang merupakan biota akuatik yang bersifat demersal, yakni hidup dan beraktivitas di dasar perairan.

Karena itu, kemunculan udang secara massal ke permukaan bukanlah perilaku yang normal dan dapat menjadi indikasi adanya gangguan serius pada habitatnya.

Ia menjelaskan, apabila tidak ditemukan tanda-tanda penyakit pada udang, maka penyebab yang paling mungkin adalah memburuknya kualitas air, terutama menurunnya kadar oksigen terlarut di dasar sungai.

“Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh tingginya kandungan bahan organik di perairan. Proses penguraian bahan organik membutuhkan oksigen dalam jumlah besar sehingga mengurangi ketersediaan oksigen bagi biota yang hidup di dasar perairan, seperti udang,” jelas Prof Sri Jumat (3/7/2026).

Ia menambahkan, kondisi itu juga menjadi alasan mengapa fenomena tersebut lebih banyak dialami udang dibandingkan ikan.

Sebagian besar ikan yang hidup di kolom perairan masih dapat memperoleh pasokan oksigen yang lebih baik dibandingkan biota dasar.

Untuk memastikan penyebab pasti, Prof Sri menekankan pentingnya dilakukan pengujian laboratorium terhadap kualitas air.

Beberapa parameter yang perlu diperiksa antara lain kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen), total ammonia nitrogen (TAN), biological oxygen demand (BOD), serta parameter kualitas air lainnya, terutama dari sampel yang diambil di dasar perairan.

Selain pemeriksaan air, ia juga menyarankan analisis terhadap sedimen atau lumpur dasar sungai.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya akumulasi polutan maupun zat berbahaya yang dapat memengaruhi kondisi ekosistem.

Prof Sri berharap instansi terkait segera melakukan investigasi secara komprehensif berbasis data ilmiah agar penyebab fenomena tersebut dapat diketahui secara pasti.

Dengan demikian, langkah penanganan yang tepat dapat segera dilakukan guna menjaga keseimbangan ekosistem perairan serta mencegah dampak lingkungan yang lebih luas. (opy)