Dari Persimpangan Jalan ke Pesantren Ramadan: 100 Anak Punk dan Pengamen Ikut Program Dakwah Baznas

Baznas menggelar Pesantren Marjinal Ramadan di Serang, mengajak 100 anak punk dan pengamen jalanan belajar agama dan pembinaan spiritual.

Kamis, 12 Maret 2026 - 19:00 WIB
Dari Persimpangan Jalan ke Pesantren Ramadan: 100 Anak Punk dan Pengamen Ikut Program Dakwah Baznas
Dok Baznas Ratusan pengamen dan anak punk mengikuti kegiatan Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan di Kebun Kebangsaan Serang, Banten, pada 7–8 Maret 2026.

HALLONEWS.ID – Suasana berbeda terlihat di Kebun Kebangsaan Serang, Banten, akhir pekan lalu. Seratus anak punk, pengamen jalanan, hingga anggota Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) yang biasanya menghabiskan hari di persimpangan lampu merah, berkumpul mengikuti kegiatan pesantren Ramadan.

Program bertajuk Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan itu digelar selama dua hari, pada 7–8 Maret 2026, hasil kolaborasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI dengan Yayasan Syakirah Ramadan. Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan spiritual bagi kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggir kehidupan sosial.

Sekretaris Utama Baznas RI, Subhan Cholid, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari agenda Ramadan Baznas yang digelar di berbagai daerah.

“Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan dilaksanakan di 20 titik kota dan kabupaten di 11 provinsi, termasuk di Serang,” ujar Subhan dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, program ini dirancang sebagai pendekatan dakwah yang menyasar kelompok rentan dan marjinal. Melalui kegiatan ini, Baznas ingin menghadirkan ruang belajar agama yang lebih inklusif bagi mereka yang selama ini jarang tersentuh program pembinaan keagamaan.

Selama dua hari kegiatan, para peserta mengikuti berbagai aktivitas keagamaan seperti mengaji bersama, salat tarawih berjemaah, salat tahajud, hingga sahur bersama.

Menurut Subhan, kebersamaan yang tercipta dalam kegiatan tersebut menghadirkan suasana yang hangat dan kekeluargaan. Bagi para peserta, momen itu menjadi kesempatan untuk sejenak meninggalkan rutinitas kehidupan jalanan.

“Momen ini menjadi ruang bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus merasakan kebersamaan yang mungkin jarang mereka temukan dalam keseharian,” kata dia.

Baznas juga mencoba menghadirkan pendekatan dakwah yang lebih dekat dengan dunia para peserta. Salah satunya melalui musik jalanan, yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajak menyanyikan lagu-lagu bernuansa Islami bersama para pengamen. Pendekatan ini dinilai mampu membangun kedekatan emosional sekaligus membuat suasana pembelajaran lebih cair.

Menurut Subhan, program ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan zakat tidak hanya terbatas pada bantuan ekonomi semata. Dana zakat juga dapat diarahkan untuk pembinaan mental dan spiritual masyarakat.

“Baznas ingin memastikan manfaat zakat juga hadir dalam bentuk penguatan mental, spiritual, sekaligus syiar dakwah Islam selama Ramadan,” ujarnya.

Dalam sesi pembekalan, ustaz Taufiq Akbar memberikan materi mengenai pentingnya transformasi spiritual bagi kelompok marjinal. Ia menekankan bahwa perubahan hidup dapat dimulai dari kesadaran untuk memperbaiki diri.

Menurutnya, setiap orang memiliki potensi untuk bangkit, termasuk mereka yang selama ini hidup di jalanan.

Ia berharap para peserta mampu memanfaatkan momentum Ramadan sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Syakirah Ramadan, Evi, menilai lokasi kegiatan di Kebun Kebangsaan Serang memberi suasana yang berbeda bagi para peserta.

Ruang terbuka yang jauh dari suasana formal membuat para peserta merasa lebih nyaman mengikuti kegiatan pesantren.

“Tempat ini membuat mereka merasa diterima dan tidak dihakimi. Itu penting agar mereka bisa lebih terbuka mengikuti proses pembinaan,” kata Evi.

Melalui program seperti ini, Baznas berharap pesan Ramadan dapat menjangkau lebih luas, termasuk kepada mereka yang selama ini berada di pinggiran kota dan kerap luput dari perhatian. Bagi para peserta, dua hari di pesantren itu menjadi jeda dari kerasnya jalanan—sekaligus kesempatan menata ulang arah hidup. (ver)