Roti Manis Haliwen, Warisan Keluarga di Atambua yang Bangkit dari Uang Pesangon

Usaha roti manis Haliwen di Atambua berkembang setelah diteruskan pasangan suami istri yang rela meninggalkan pekerjaan demi melanjutkan bisnis keluarga.

Selasa, 19 Mei 2026 - 1:00 WIB
Roti Manis Haliwen, Warisan Keluarga di Atambua yang Bangkit dari Uang Pesangon
Roti manis Haliwen jadi warisan usaha keluarga di Atambua. Foto: Instagram @syawaludin.djakaria

HALLONEWS.ID – Usaha Roti Manis Haliwen di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi bukti bahwa bisnis keluarga dapat terus berkembang ketika dikelola dengan tekad dan kerja keras.

Usaha roti tersebut awalnya dirintis oleh ibu mertua Haswita sejak tahun 2015 sebelum akhirnya diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pada tahun 2024, Haswita atau yang akrab disapa Wita bersama suaminya memutuskan pulang dari Bogor untuk melanjutkan usaha keluarga tersebut.

Keduanya memilih meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai pegawai demi mengembangkan bisnis roti yang telah lama dijalankan keluarga.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sang suami diketahui memiliki ketertarikan besar di bidang pembuatan roti sejak masih tinggal di Bogor.

Ketika masa kontrak kerja Wita berakhir, mereka memilih fokus membangun usaha sendiri di kampung halaman.

“Usaha ini memang sudah lama sebagai usaha keluarga. Kebetulan suami juga memang senang di bidang roti,” ujar Wita, dikutip wartawan media ini Senin (18/5/2026).

Kini, usaha yang berada di Dusun Haliwen tersebut telah memiliki izin usaha resmi serta sertifikat halal untuk menunjang kepercayaan konsumen.

Dalam mengembangkan usaha, pasangan ini memanfaatkan uang pesangon untuk membeli mesin pengaduk adonan yang lebih modern. Langkah tersebut dilakukan agar proses produksi menjadi lebih ringan dan efisien.

Sebelumnya, produksi roti dilakukan secara manual menggunakan tenaga tangan. Cara tradisional itu membutuhkan tenaga fisik besar setiap hari untuk mengolah adonan dalam jumlah banyak.

“Dulu mama mertua buat rotinya masih manual pakai tangan. Sekarang kami beli mesin supaya lebih membantu produksi,” katanya.

Setiap hari, proses pembuatan roti dimulai sejak siang dan memakan waktu sekitar sepuluh jam hingga siap dipasarkan.

Wita dan suaminya harus bekerja hingga larut malam agar roti tetap segar saat dijual pada pagi hari.

Roti Manis Haliwen dipasarkan setiap subuh di Pasar Baru Atambua. Selain dijual langsung, pelanggan juga dapat melakukan pemesanan melalui media sosial maupun kontak pribadi dengan layanan pesan antar.

Perjuangan mereka mulai membuahkan hasil. Usaha tersebut kini mampu menghasilkan omzet yang stabil dan membantu melunasi pinjaman modal tepat waktu.

Selain itu, mereka juga berhasil menambah sejumlah aset penunjang usaha seperti kendaraan operasional dan etalase baru untuk mendukung penjualan harian.

Bagi Wita, usaha keluarga yang dijalankan dengan konsisten dapat memberikan hasil positif dalam jangka panjang.

Ia berharap suatu hari nanti Roti Manis Haliwen dapat memiliki bangunan rumah produksi sendiri di lahan milik keluarga. (opy)