Bank of Singapore Borong 2,8 Miliar Saham BACA, Ini yang Bikin Pasar Heboh

Masuknya Bank of Singapore lewat skema repo membuat saham Bank Capital (BACA) melonjak tajam. Simak analisis sentimen, valuasi, dan risiko investasinya.

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:18 WIB
Bank of Singapore Borong 2,8 Miliar Saham BACA, Ini yang Bikin Pasar Heboh
Kantor Bank Capital (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.ID – PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) mencatat perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan saham menjelang akhir 2025, menyusul masuknya investor global asal Singapura.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 24 Desember 2025, Bank of Singapore Limited mengungkapkan telah dilakukan transaksi pembelian saham BACA dalam skema kepemilikan tidak langsung.

Transaksi tersebut dilakukan pada 19 Desember 2025 melalui mekanisme repurchase agreement (repo), dengan jumlah saham yang dibeli mencapai 2,8 miliar saham atau setara 14,03% hak suara.

Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp168 per saham, sehingga total nilai transaksi mencapai sekitar Rp470,4 miliar. Dalam laporan kepemilikan, Gia Ventures Pte Ltd tercatat sebagai pemilik langsung saham hasil transaksi tersebut.

Bank of Singapore menegaskan bahwa kepemilikan tersebut tidak menjadikan pihaknya sebagai pengendali Bank Capital.

“Baik kami maupun afiliasi kami tidak memiliki kepentingan langsung ataupun merupakan pemilik manfaat atas PT Bank Capital Indonesia Tbk,” demikian pernyataan resmi manajemen Bank of Singapore kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam keterbukaan terpisah, pengendali BACA, Capital Global Investama, tercatat melepas 2,8 miliar saham pada harga yang sama, sehingga porsi kepemilikannya turun dari 63,69% menjadi 50,66%, namun tetap mempertahankan status sebagai pemegang saham pengendali.

Direktur Bank Capital Indonesia, Harri Setia Budhi, sebelumnya juga menegaskan bahwa Perseroan tidak memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat, termasuk yang berdampak pada pencatatan saham di BEI.

Masuknya Bank of Singapore ke BACA mendapat perhatian luas pasar. Pada perdagangan 29 Desember 2025, saham BACA melonjak 27,27% ke level Rp238 per saham, jauh di atas harga repo Rp168.

Kenaikan tersebut mendorong kapitalisasi pasar BACA ke kisaran Rp4,7 triliun, dengan rasio P/E intraday sekitar 51,9 kali, mencerminkan ekspektasi tinggi investor terhadap prospek saham ini.

Dari sisi kinerja, BACA membukukan laba bersih sebesar Rp62,77 miliar hingga kuartal III-2025, turun 22,17% (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, penyaluran kredit tumbuh solid 30,55% YtD menjadi Rp10,17 triliun, dengan total aset tercatat sebesar Rp24,43 triliun per September 2025.

Menanggapi fenomena ini, Ekonom sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai bahwa tren akuisisi dan penambahan modal bank kecil diperkirakan berlanjut hingga 2026.

“Bank-bank kecil harus memperkuat permodalan, salah satunya melalui akuisisi dan konsolidasi, seiring rencana penghapusan kategori KBMI 1 oleh OJK,” ujarnya.

Tentang Perusahaan

PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) adalah perusahaan keuangan yang melakukan bisnis perbankan. Sejak tahun 2007, perusahaan telah mendaftarkan sahamnya di pasar modal dan hingga kini memiliki 82 kantor di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Solo, dan Kupang.

Bank Capital terus mendorong transformasi digital seiring perubahan perilaku transaksi nasabah dalam menghadapi persaingan industri. Untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan, perusahaan mendukung manajemen risiko dan fungsi kepatuhan yang terintegrasi.

Dengan kinerja jangka pendek yang sangat baik, saham BACA terakhir diperdagangkan di level Rp234. Saham ini naik 28,57% dalam satu minggu terakhir, sementara dalam satu bulan naik 48,10%.

Dalam tiga bulan, kenaikan mencapai 69,57% dan kenaikan tahunan sekitar 80%. Saham BACA masih naik 78,63% dalam jangka waktu tiga tahun, meskipun dalam jangka waktu lima tahun masih mencatat penurunan 38,74%.

Secara teknikal, saham BACA saat ini berada dalam fase uptrend karena bergerak di atas garis EMA 20, dengan area support kuat di kisaran Rp167. Dari sisi valuasi, terdapat kondisi yang cukup unik.

Price to earnings ratio BACA berada di level sangat premium sekitar 55 kali, sementara price to book value justru berada di kisaran 0,7 kali. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang dimiliki masih perlu ditingkatkan agar valuasi tinggi tersebut dapat didukung oleh kinerja fundamental yang lebih solid ke depan.

Analisis YES INVESTMasuknya Bank of Singapore ke saham BACA menjadi sinyal positif bagi persepsi investor asing terhadap bank kecil–menengah di Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian global.

Skema repo dengan harga Rp168 per saham menjadi anchor valuation yang menarik perhatian pasar, meskipun lonjakan harga saham pascatransaksi lebih banyak didorong oleh sentimen dan ekspektasi dibandingkan fundamental jangka pendek.

Namun, dari sisi fundamental, investor perlu mencermati bahwa laba bersih BACA masih mengalami kontraksi, sementara valuasi saham sudah bergerak ke level premium.

Tanpa adanya kejelasan rencana aksi korporasi lanjutan atau perbaikan profitabilitas yang signifikan, pergerakan saham berpotensi tetap volatil dan sensitif terhadap perubahan sentimen.

Dalam konteks jangka menengah, BACA lebih tepat dipandang sebagai story-driven stock yang diuntungkan oleh narasi konsolidasi perbankan dan minat investor asing, bukan sebagai bank dengan kinerja fundamental yang sudah matang.

Investor disarankan untuk mencermati perkembangan struktur permodalan, realisasi kinerja laba, serta kejelasan arah strategis pemegang saham sebelum mengambil keputusan investasi lanjutan. ( Yesaya Christofer/CEO Yes Invest)