Ambisi Trump Kuasai Greenland Jadi Bumerang Politik: 70% Warga AS Tolak, Partai Republik Ikut Terbelah

Ambisi Trump kuasai Greenland justru jadi krisis politik: publik menolak, Partai Republik pecah, dan sekutu Eropa bereaksi keras.

Sabtu, 14 Februari 2026 - 22:42 WIB
Ambisi Trump Kuasai Greenland Jadi Bumerang Politik: 70% Warga AS Tolak, Partai Republik Ikut Terbelah
Presiden AS Donald Trump berbicara di Washington DC usai menuai kritik atas rencananya menguasai Greenland, Februari 2026. Foto: CGTN for Hallonews

HALLONEWS.ID-Presiden Donald Trump mungkin dikenal tak pernah takut menantang arus, tapi kali ini langkahnya dinilai terlalu jauh bahkan oleh partainya sendiri.

Rencana Trump untuk menguasai Greenland justru menjadi bumerang politik yang mengguncang Partai Republik, menurut survei terbaru The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research (AP-NORC).

Data survei menunjukkan tujuh dari sepuluh warga AS menolak keras pendekatan Trump terhadap Greenland, wilayah Arktik yang menjadi bagian dari Denmark dan sekutu NATO.

Penolakan ini bahkan lebih tinggi dibandingkan kritik terhadap kebijakan luar negeri Trump secara keseluruhan, menjadikannya salah satu isu paling merusak citra presiden menjelang tahun politik.

“Hanya 24 persen orang dewasa AS yang menyetujui langkah Presiden Trump terhadap Greenland,” tulis laporan AP-NORC, yang merangkum hasil jajak pendapat nasional, seperti dikutip Hallonews, Sabtu (14/2/2026).

Republik Retak di Tengah Hasrat “Beli Pulau” Trump

Yang lebih mengejutkan, survei ini mengungkap bahwa Partai Republik kini ikut terbelah. Sekitar setengah anggota partai mendukung ide tersebut atas dasar nasionalisme ekonomi, sementara separuh lainnya menyebut gagasan itu “tidak masuk akal dan memalukan.”

Trump sendiri bersikeras bahwa mengakuisisi Greenland penting untuk kepentingan strategis AS di kawasan Arktik, terutama untuk menghadang pengaruh Tiongkok dan Rusia.

“Kepentingan keamanan nasional Amerika dimulai di Kutub Utara,” kata Trump dalam pernyataan resminya.

Namun, sejumlah diplomat menyebut langkah itu sebagai bukti arogansi geopolitik Washington, sementara analis menilai ide tersebut “lebih mirip lelucon daripada strategi.”

Publik AS: “Amerika Bukan Perusahaan Properti”

Sentimen publik menggambarkan kejenuhan terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dinilai terlalu transaksional, memandang dunia seperti aset bisnis. Bagi banyak warga Amerika, gagasan membeli Greenland hanyalah kelanjutan dari mentalitas pebisnis yang memandang geopolitik sebagai pasar bebas.

“Amerika bukan perusahaan real estate, dan dunia bukan katalog properti,” tulis salah satu responden dalam survei tersebut.

Survei AP-NORC dilakukan pada 5–8 Februari 2026, melibatkan 1.156 responden dewasa dari Panel AmeriSpeak, sistem berbasis probabilitas yang mewakili populasi nasional.

Hasilnya mencatat margin kesalahan ±3,9 persen untuk seluruh responden, dan ±6,1 persen untuk responden dari Partai Republik.

Kesimpulan utamanya jelas: isu Greenland bukan sekadar kebijakan luar negeri, tapi potensi titik balik politik bagi Trump.

Bumerang Diplomatik: Sekutu Gerah, Dunia Menertawakan

Kritik tak hanya datang dari dalam negeri. Di Eropa, banyak pejabat menilai upaya AS membeli Greenland sebagai bentuk kolonialisme modern. Media Denmark bahkan menyebut ide Trump sebagai “politik abad ke-21 dengan mentalitas abad ke-19.”

Hubungan diplomatik AS–Denmark sempat membeku setelah Trump menolak kunjungan kenegaraan ke Kopenhagen usai Perdana Menteri Mette Frederiksen menyebut rencana itu “absurd”.

Kini, para pengamat menilai ambisi Trump terhadap Greenland telah menciptakan badai politik dan diplomatik yang mungkin sulit diredam menjelang pemilihan berikutnya. (ren)