Khamenei Tewas, Iran Hujani 27 Pangkalan AS dan Israel dengan Rudal
Iran melancarkan gelombang rudal dan drone ke 27 pangkalan AS serta target di Israel setelah Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS–Israel. Garda Revolusi bersumpah melakukan operasi paling dahsyat dalam sejarah.

HALLONEWS.ID — Eskalasi besar mengguncang Timur Tengah setelah Iran meluncurkan gelombang baru serangan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan serta wilayah Israel, Minggu (1/3/2026). Serangan ini disebut sebagai balasan langsung atas operasi gabungan AS–Israel yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Media pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 27 pangkalan militer AS menjadi target, selain markas militer Israel dan kompleks industri pertahanan di Tel Aviv.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei melalui akun Truth Social miliknya.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” tulis Trump, tanpa menjelaskan sumber rinci informasi tersebut.
Pihak Iran mengonfirmasi wafatnya pemimpin tertinggi mereka, memicu gelombang duka sekaligus kemarahan di dalam negeri.
Ribuan Pelayat Turun ke Jalan
Ribuan warga berkumpul di Lapangan Enghelab, pusat Teheran, untuk berduka atas wafatnya Khamenei. Para pelayat mengenakan pakaian hitam, membawa potret sang pemimpin, dan meneriakkan slogan anti-Amerika serta anti-Israel.
Suasana emosional menyelimuti ibu kota, sementara aparat keamanan memperketat pengamanan di berbagai titik strategis.
Tak lama setelah kabar kematian diumumkan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan.
Sirene serangan udara berbunyi di Israel tengah dan sebagian Tepi Barat. Militer Israel melalui Israel Defense Forces (IDF) menyatakan sistem pertahanan udara dikerahkan untuk mencegat ancaman.
Di Tel Aviv, layanan darurat Magen David Adom mengonfirmasi seorang perempuan berusia 40-an tewas akibat hantaman rudal, korban jiwa pertama di Israel sejak eskalasi terbaru dimulai.
Ledakan di Teluk dan Irak
Di luar Israel, saksi mata melaporkan ledakan keras terdengar di Dubai untuk hari kedua berturut-turut. Iran sebelumnya menyatakan akan menargetkan pangkalan AS di negara-negara Teluk.
Sementara itu, asap hitam terlihat membumbung di dekat Bandara Erbil di wilayah Kurdistan Irak, yang menampung pasukan koalisi pimpinan AS. Sehari sebelumnya, sistem pertahanan dilaporkan berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone di wilayah tersebut.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras, menyebut operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah akan segera dimulai.
Pernyataan tersebut menandakan kemungkinan eskalasi lanjutan terhadap Israel dan kepentingan militer AS di kawasan.
Iran juga mengonfirmasi tewasnya sejumlah pejabat keamanan senior, termasuk kepala Garda Revolusi Mohammad Pakpour dan pejabat tinggi Ali Shamkhani, dalam serangan sebelumnya.
Transisi Kekuasaan Dimulai
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian bersama dua pejabat senior lainnya akan memimpin pemerintahan selama masa transisi pasca wafatnya Khamenei.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas politik dan memastikan kelangsungan pemerintahan di tengah tekanan militer yang meningkat.
Israel Lanjutkan Serangan
Di saat yang sama, Israel mengumumkan telah meluncurkan gelombang serangan lanjutan terhadap target di Iran. Trump bahkan menyatakan operasi militer akan terus berlangsung “selama diperlukan”.
Dengan kematian seorang pemimpin tertinggi, balasan rudal lintas negara, serta ancaman terhadap puluhan pangkalan militer di kawasan, konflik ini kini memasuki fase yang sangat berbahaya.
Timur Tengah berdiri di ambang konflik regional yang lebih luas, dan dunia menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah hujan rudal. (ren)
