Beirut Dibombardir: Hizbullah Balas Kematian Khamenei, Perang Regional Makin Nyata
Senin, 2 Maret 2026, Israel membombardir Beirut setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel utara sebagai balasan atas kematian Ali Khamenei. Eskalasi ini memperluas konflik Iran–AS–Israel ke Lebanon.

HALLONEWS.ID — Konflik yang bermula dari serangan udara gabungan Amerika Serikat–Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, kini meluas ke Lebanon. Pada Senin pagi, 2 Maret 2026, jet-jet tempur Israel membombardir Beirut setelah kelompok Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke Israel utara.
Kelompok bersenjata Lebanon itu menyatakan serangannya sebagai “balas dendam atas darah Pemimpin Tertinggi umat Muslim, Ali Khamenei” dan sebagai bentuk pembelaan terhadap Lebanon serta rakyatnya.
Hizbullah mengklaim telah menargetkan instalasi pertahanan rudal di selatan Haifa. Namun, militer Israel menyatakan sebagian besar roket berhasil dicegat, sementara beberapa lainnya jatuh di area terbuka. Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan di Israel utara.
Serangan itu menjadi yang pertama secara terbuka diklaim Hizbullah sejak gencatan senjata Israel–Lebanon pada November 2024.
Tak lama setelah roket ditembakkan, Angkatan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) mengonfirmasi telah memulai serangan besar-besaran terhadap target Hizbullah di seluruh Lebanon.
“Militer Israel akan bertindak terhadap keputusan Hizbullah untuk bergabung dalam kampanye ini dan tidak akan membiarkan ancaman terhadap warga Israel,” demikian pernyataan resmi IDF seperti dilansir Al Jazeera, Senin (2/3/2026).
Media Lebanon melaporkan serangan udara Israel menghantam wilayah Beirut selatan, basis kuat Hizbullah, serta sejumlah desa di Lebanon selatan dan wilayah Lembah Bekaa di timur.
Militer Israel menyebut telah menargetkan “anggota senior Hizbullah” di wilayah Beirut dan seorang tokoh “kunci” di Lebanon selatan, tanpa merinci identitasnya.
Peningkatan ini memperdalam kekhawatiran bahwa perang Iran–AS–Israel kini benar-benar berubah menjadi konflik regional terbuka.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan bahwa serangan roket tersebut adalah “peringatan” kepada Israel agar mundur dari wilayah Lebanon yang masih diduduki, merujuk pada lima pos perbatasan yang tetap dikuasai Israel meski ada kesepakatan gencatan senjata 2024.
“Musuh Israel tidak dapat melanjutkan agresinya tanpa respons,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sebelumnya menyatakan kelompoknya tidak akan bersikap netral jika Iran diserang, meski tidak secara eksplisit menyatakan akan terlibat langsung dalam perang regional.
Pemerintah Lebanon Menolak Eskalasi
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam pada Senin (2/3/2026) menyebut serangan Hizbullah sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab dan mencurigakan” yang membahayakan keamanan nasional.
“Kami tidak akan membiarkan Lebanon terseret dalam petualangan baru,” ujarnya, seraya berjanji mengambil langkah untuk menjaga stabilitas dalam negeri.
Lebanon sendiri masih bergulat dengan krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan. Gencatan senjata yang dicapai pada November 2024 sudah rapuh, dan Israel dituduh terus melakukan serangan hampir setiap hari sejak itu.
Eskalasi ini terjadi dua hari setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan AS–Israel di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Iran sejak itu meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Di Israel tengah, polisi masih mencari 11 orang yang hilang setelah serangan rudal Iran di Beit Shemesh pada Minggu, 1 Maret 2026, yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai lebih dari 45 lainnya.
Perang Kian Melebar
Sejak konflik pecah, korban jiwa terus bertambah di berbagai negara. Israel meningkatkan intensitas serangan udara, sementara Iran dan sekutunya memperluas target ke berbagai front.
Hizbullah, yang melemah setelah perang 2024 dan kehilangan sebagian besar kepemimpinannya, kini kembali terseret ke pusaran konflik besar.
Dengan Beirut kembali dibombardir dan roket melintas di atas Haifa, Timur Tengah memasuki fase yang lebih berbahaya, bukan lagi konflik terbatas, melainkan potensi perang lintas negara yang melibatkan poros besar kekuatan regional. (ren)
