Trump Klaim Iran Hancur Total, tapi Akui Tak Punya Rencana setelah Khamenei Tewas

Presiden AS Donald Trump mengklaim militer Iran hancur total dalam serangan AS–Israel. Namun ia mengakui belum memiliki rencana jelas pasca-tewasnya Khamenei, memicu kritik global soal arah konflik Timur Tengah 2026.

Rabu, 4 Maret 2026 - 7:17 WIB
Trump Klaim Iran Hancur Total, tapi Akui Tak Punya Rencana setelah Khamenei Tewas
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait konflik AS–Israel melawan Iran di Gedung Putih, Washington DC. Foto: Euronews for Hallonews

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim militer Iran telah “hancur total” akibat serangan gabungan AS–Israel. Namun di balik pernyataan penuh percaya diri itu, Trump justru mengakui belum memiliki rencana jelas tentang masa depan Iran setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Berbicara di Ruang Oval Gedung Putih pada Selasa (3/3/2026), Trump menyebut kekuatan pertahanan Iran telah dilumpuhkan secara sistematis.

“Hampir semuanya telah hancur. Mereka tidak punya angkatan laut, sudah dihancurkan. Tidak punya angkatan udara, sudah dihancurkan. Radar dan sistem pertahanan udara mereka juga sudah dihancurkan,” kata Trump, seperti dilansir Euronews, Rabu (4/3/2026).

Konflik ini menjadi yang terbesar di Timur Tengah dalam lebih dari dua dekade. Namun di tengah klaim kemenangan militer tersebut, Trump mengakui ketidakpastian besar soal arah politik Iran.

“Skenario terburuknya adalah kita melakukan ini, lalu seseorang mengambil alih yang sama buruknya dengan orang sebelumnya,” ujarnya, merujuk pada Khamenei.

Alasan Perang Berubah-ubah

Trump menghadapi kritik karena dinilai menyampaikan alasan berbeda-beda terkait dimulainya operasi militer yang dinamai “Operasi Epic Fury”.

Ia menyatakan Iran kemungkinan akan menyerang lebih dulu sehingga AS bertindak preventif. Pernyataan ini berbeda dari keterangan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sehari sebelumnya yang menyebut AS bergerak setelah mengetahui Israel akan melancarkan serangan.

Trump bahkan mengatakan, “Jika ada, saya mungkin telah memaksa Israel untuk bertindak.”

Perbedaan narasi ini memicu pertanyaan soal konsistensi strategi Gedung Putih.

Trump juga menyebut dua gelombang serangan AS–Israel telah menewaskan sejumlah tokoh Iran yang dianggap sebagai kandidat pemimpin baru.

“Sebagian besar orang yang kami incar sudah meninggal,” katanya.

Media Iran melaporkan serangan menyasar gedung Majelis Pakar di Qoms, lembaga yang berwenang memilih pemimpin tertinggi. Israel mengklaim bangunan tersebut rata dengan tanah, sementara Iran membantah adanya korban.

Hingga kini belum ada verifikasi independen terkait klaim tersebut.

Tanpa Peta Jalan Pascakonflik

Meski sebelumnya sempat menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahnya, Trump kini meminta publik Iran menahan diri untuk tidak turun ke jalan.

Perubahan rezim tidak secara eksplisit masuk dalam tujuan resmi operasi militer yang ia sampaikan sebelumnya. Pengakuannya bahwa belum ada rencana jelas pascakonflik memicu kekhawatiran global tentang potensi kekosongan kekuasaan dan instabilitas lanjutan.

Konflik AS–Israel vs Iran berdampak langsung pada harga minyak dan gas dunia. Trump tetap optimistis harga energi akan turun setelah perang berakhir, namun sejumlah pemimpin Eropa menyatakan kekhawatiran atas efek domino terhadap ekonomi global. (ren)