Iran Tutup Selat Hormuz, Trump Siap Kerahkan Kapal Perang Kawal Tanker
Selat Hormuz, jalur minyak paling vital dunia, ditutup Iran di tengah perang melawan AS–Israel. Presiden Donald Trump menyatakan siap mengerahkan Angkatan Laut untuk mengawal kapal tanker. Harga minyak melonjak dan dunia kini menghadapi risiko krisis energi baru.

HALLONEWS.ID – Eskalasi konflik AS–Israel melawan Iran memasuki fase paling berbahaya setelah Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global setiap hari.
Langkah Iran tersebut langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 8 persen dalam perdagangan intraday sebelum akhirnya terkoreksi dan ditutup dengan kenaikan sekitar 2–3 persen, mendekati level 80 dolar AS per barel. Di Eropa, harga gas menyentuh titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Merespons ancaman tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan Angkatan Laut Amerika siap mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz “jika diperlukan”.
“Kami akan memastikan kebebasan navigasi. Angkatan Laut AS siap mengawal tanker jika perlu,” tulis Trump dalam pernyataan terbarunya, Selasa (3/3/2026).
Jalur Energi Paling Vital Dunia
Selat Hormuz terletak di antara Iran di utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di selatan. Jalur sempit ini merupakan satu-satunya akses laut bagi produsen minyak utama Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Iran sendiri.
Pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau hampir 20 persen pasokan global, melewati jalur ini. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga energi global, apalagi penutupan penuh atau konflik militer terbuka.
Iran sebelumnya bersumpah akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi perairan tersebut selama konflik berlangsung. Ancaman ini meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara kapal perang AS dan pasukan Iran.
Penutupan Selat Hormuz terjadi saat perang memasuki hari keempat. AS dan Israel terus melancarkan serangan terhadap target di Iran, sementara Teheran membalas dengan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan sekutu AS di kawasan Teluk.
Fasilitas diplomatik AS di kawasan juga menjadi sasaran. Sebuah drone dilaporkan menghantam area parkir dekat konsulat AS di Dubai, memicu kebakaran yang berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa.
Di Arab Saudi, serangan drone sebelumnya memicu kebakaran terbatas di fasilitas diplomatik Amerika. Inggris bahkan mengirim kapal perang ke Siprus setelah laporan serangan terhadap pangkalan RAF Akrotiri.
PBB Soroti Dugaan Kejahatan Perang
Di tengah eskalasi militer, muncul laporan yang lebih mengkhawatirkan. Media Iran menyebut sedikitnya 165 orang tewas dalam serangan udara yang menghantam sekolah perempuan di wilayah selatan Iran.
Militer Israel menyatakan tidak mengetahui adanya serangan di lokasi tersebut, sementara militer AS menyebut sedang menyelidikinya.
Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa jika serangan itu terbukti menargetkan warga sipil atau dilakukan tanpa pandang bulu, maka dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Klaim Nuklir Diperdebatkan
Salah satu alasan utama AS dan Israel melancarkan serangan adalah kekhawatiran terhadap program nuklir Iran.
Namun Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum ada bukti bahwa Iran sedang membangun bom nuklir, meskipun mengakui stok uranium yang diperkaya mendekati level senjata dan pembatasan akses terhadap inspektur menjadi kekhawatiran serius.
Di dalam negeri, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan mengirim pesan teks massal kepada warga, memperingatkan agar tidak turun ke jalan dan mengancam tindakan keras terhadap siapa pun yang dianggap mengganggu keamanan.
Pemadaman internet dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, mempersulit akses informasi dan pelaporan independen dari dalam Iran.
Dunia Menghadapi Risiko Krisis Energi
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar langkah militer, tetapi berpotensi menjadi pemicu krisis energi global baru.
Jika pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS benar-benar dilakukan, risiko bentrokan langsung di jalur minyak vital dunia akan meningkat drastis.
Dunia kini berada di persimpangan berbahaya: antara upaya menjaga stabilitas pasokan energi dan potensi konfrontasi militer terbuka di jantung perdagangan minyak global. (ren)
