Kisah Bripka Seladi: Polisi Jujur yang Menolak Suap, Pilih Memulung demi Hidup Halal

Kisah inspiratif Bripka Seladi, polisi penguji SIM di Polresta Malang Kota yang menolak suap dan memilih bekerja sebagai pemulung demi menjaga integritas dan kejujuran.

Sabtu, 7 Maret 2026 - 7:30 WIB
Kisah Bripka Seladi: Polisi Jujur yang Menolak Suap, Pilih Memulung demi Hidup Halal
Bripka Seladi menerima penghargaan dari Kapolri. Foto: Hallonews

HALLONEWS.ID – Di tengah berbagai cerita tentang penyimpangan aparat, kisah hidup Bripka Seladi justru menjadi pengingat bahwa integritas masih hidup di tubuh kepolisian.

Pria yang pernah bertugas di Polresta Malang Kota ini dikenal sebagai polisi yang teguh memegang prinsip kejujuran. Bahkan ketika memegang jabatan yang sangat rawan godaan suap, ia memilih tetap bersih.

Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Seladi, pilihan tersebut justru membawanya pada kehidupan yang jauh dari kemewahan.

Alih-alih memanfaatkan jabatannya untuk mendapatkan uang tambahan secara tidak sah, Seladi justru menjalani pekerjaan sampingan sebagai pemulung selama bertahun-tahun.

Dalam kariernya di kepolisian, Seladi bertugas sebagai penguji pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk kendaraan roda dua dan roda empat.

Jabatan ini dikenal cukup sensitif. Tidak sedikit pemohon SIM yang mencoba mencari jalan pintas agar bisa lulus tanpa mengikuti ujian dengan benar.

Bahkan, praktik suap dalam proses pembuatan SIM kerap menjadi sorotan publik.
Namun bagi Seladi, hal tersebut tidak pernah menjadi pilihan.

Ia menolak segala bentuk gratifikasi yang diberikan pemohon. Menurutnya, proses pembuatan SIM tidak sekadar formalitas administrasi, tetapi menyangkut keselamatan banyak orang di jalan raya.

“Sebagai penguji SIM A dan C, saya memilih jujur. Saya tidak mau menerima suap karena itu berkaitan dengan kompetensi pengendara di jalan,” ujarnya.

Prinsip tersebut ia pegang teguh selama bertahun-tahun menjalani tugas sebagai anggota polisi lalu lintas.

Memilih Jalan yang Tidak Mudah

Menolak suap memang menjaga integritas. Namun keputusan itu juga berarti Seladi harus menerima kenyataan hidup yang sederhana.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ia memilih pekerjaan lain yang halal: memulung.
Sejak tahun 2004, Seladi mulai mengumpulkan barang-barang bekas yang ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Kardus, botol plastik, hingga logam bekas ia kumpulkan untuk dijual kembali.

Pekerjaan itu ia lakukan dengan penuh kesabaran, bahkan saat masih aktif bertugas sebagai polisi.
Bagi sebagian orang, pekerjaan memulung mungkin dipandang rendah. Tetapi Seladi tidak pernah merasa malu.

Baginya, bekerja keras dengan cara yang halal jauh lebih terhormat daripada memperoleh uang dari praktik suap.

Seladi menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Penghasilan dari memulung digunakan untuk membantu kebutuhan rumah tangga dan membayar berbagai utang keluarga.

Meski lelah, ia tetap menjalani rutinitas tersebut dengan penuh keikhlasan.
Selama lebih dari dua dekade, pekerjaan memulung menjadi bagian dari kehidupannya.

Bahkan ketika banyak orang terkejut mengetahui bahwa seorang polisi memiliki pekerjaan sampingan seperti itu, Seladi tetap menjalani hidupnya tanpa merasa rendah diri.

Ia percaya bahwa kejujuran adalah harga diri yang tidak bisa ditukar dengan uang.

Pensiun dengan Integritas

Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai anggota kepolisian, Seladi akhirnya memasuki masa pensiun pada tahun 2017 saat berusia 58 tahun.

Jabatan terakhir yang ia emban tetap sebagai penguji SIM di satuan lalu lintas Polresta Malang Kota.

Meski telah pensiun, kisah hidupnya tetap dikenang banyak orang.
Cerita tentang Seladi bahkan sempat viral di media sosial karena dianggap sebagai contoh nyata integritas seorang aparat.

Di tengah berbagai kritik terhadap institusi penegak hukum, sosok Seladi menghadirkan cerita berbeda: bahwa kejujuran masih bisa bertahan, bahkan dalam situasi yang penuh godaan.

Simbol Kejujuran yang Menginspirasi

Banyak warganet memuji keteguhan Seladi dalam menjaga prinsip hidupnya.

Bagi mereka, Seladi bukan sekadar mantan polisi. Ia adalah simbol integritas dan pengabdian.

Kisah hidupnya menunjukkan bahwa menjadi aparat negara tidak harus identik dengan kekuasaan atau kemewahan.

Sebaliknya, kejujuran dan kesederhanaan justru menjadi warisan paling berharga yang bisa ditinggalkan.

Di balik profesinya sebagai pemulung, Seladi justru meninggalkan pelajaran besar bahwa kehormatan tidak diukur dari jabatan atau harta, melainkan dari keberanian untuk tetap jujur.

Penghargaan dari Kapolri

Seladi juga pernah mendapatkan penghargaan karena kejujurannya.

Pada tahun 2017, Seladi menerima penghargaan dari Tito Karnavian, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan karena Seladi dinilai sebagai contoh anggota polisi yang memiliki integritas tinggi dan hidup sederhana selama bertugas di Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Beberapa hal yang membuat Seladi diapresiasi oleh Kapolri antara lain menolak praktik suap saat bertugas sebagai penguji SIM.

Tetap hidup jujur meski kondisi ekonomi sederhana. Memilih memulung barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga daripada menerima uang haram. Menjadi teladan moral bagi anggota kepolisian lainnya.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan keteladanan Seladi selama puluhan tahun berdinas. Saat itu kisahnya juga menjadi viral di media dan banyak masyarakat yang memuji sikapnya.

Bahkan, kisah Seladi sering dijadikan contoh polisi berintegritas dalam berbagai pemberitaan dan diskusi publik tentang reformasi kepolisian. (*)