Harga Minyak Naik, Maskapai Korea Tertekan dan Dipaksa Ubah Strategi Bisnis

Lonjakan harga minyak global dan konflik Timur Tengah menekan maskapai penerbangan Korea, memaksa industri merombak strategi bisnis dan melakukan efisiensi besar-besaran.

Rabu, 25 Maret 2026 - 8:24 WIB
Harga Minyak Naik, Maskapai Korea Tertekan dan Dipaksa Ubah Strategi Bisnis
Ilustrasi-Pesawat maskapai Korean Air di Bandara Incheon saat industri penerbangan menghadapi lonjakan biaya bahan bakar. Foto: Korea Times for Hallonews

HALLONEWS.ID – Industri penerbangan Korea Selatan menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga minyak global yang berkepanjangan. Para pejabat industri pada Selasa (24/3/2026) menyebut maskapai penerbangan lokal didorong untuk merombak strategi bisnis karena biaya bahan bakar terus meningkat dan membebani keuangan perusahaan.

Menurut laporan bisnis yang dirilis oleh Korean Air, maskapai tersebut menghabiskan sekitar 4,16 triliun won atau sekitar 2,78 miliar dolar AS untuk bahan bakar tahun lalu. Angka tersebut setara dengan sekitar 28 persen dari total pengeluaran perusahaan yang mencapai 14,96 triliun won.

Dengan kenaikan harga minyak global pada tahun ini, biaya bahan bakar diperkirakan akan meningkat lebih besar pada 2026. Korean Air diketahui mengonsumsi sekitar 30,5 juta barel bahan bakar setiap tahun. Artinya, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar per barel dapat meningkatkan biaya operasional hingga sekitar 30,5 juta dolar AS.

Seorang pejabat Korean Air mengatakan perusahaan terus memantau fluktuasi harga minyak dan melakukan lindung nilai biaya bahan bakar menggunakan instrumen derivatif keuangan untuk mengurangi risiko kenaikan harga energi.

Konflik Timur Tengah Ganggu Rute Penerbangan

Risiko geopolitik juga berdampak langsung terhadap operasional maskapai. Menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Korean Air menangguhkan rute penerbangan Incheon–Dubai hingga 19 April 2026.

Maskapai tersebut sebelumnya mengoperasikan penerbangan pulang-pergi setiap hari di rute tersebut, namun seluruh penerbangan menuju Dubai dibatalkan sejak 28 Februari 2026 setelah konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah meningkat.

Maskapai Berbiaya Rendah Lebih Rentan

Maskapai penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) menghadapi tekanan yang lebih besar karena biaya bahan bakar biasanya mencapai sekitar 30 persen dari total pengeluaran mereka.

Jeju Air berencana mengurangi beban biaya bahan bakar dengan mempercepat modernisasi armada dan menggunakan pesawat yang lebih hemat bahan bakar, termasuk pesawat generasi terbaru B737-8.

Sementara itu, T’way Air menerapkan manajemen darurat dengan memangkas pengeluaran dan biaya yang tidak penting untuk mengurangi dampak lonjakan harga bahan bakar dan nilai tukar.

Berbeda dengan maskapai lain, Jin Air mencoba meningkatkan permintaan penumpang dengan membuka rute baru seperti Busan–Miyakojima dan Busan–Taichung mulai akhir bulan ini, meskipun pengamat industri menilai dampaknya kemungkinan terbatas.

Para analis industri menyebut maskapai penerbangan saat ini menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan harga minyak global dan penguatan dolar AS terhadap won Korea, yang meningkatkan biaya operasional sekaligus menekan permintaan perjalanan.

“Dampak ganda dari harga minyak yang tinggi dan dolar yang lebih kuat menimbulkan kerugian signifikan bagi maskapai penerbangan berbiaya rendah, karena biaya bahan bakar merupakan bagian besar dari pengeluaran tahunan mereka,” kata seorang pejabat industri penerbangan.

Kondisi ini membuat industri penerbangan diperkirakan harus melakukan efisiensi besar-besaran, perubahan strategi bisnis, serta optimalisasi rute dan armada untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik. (ren)