Trump Klaim Iran Diam-Diam Negosiasi, Teheran Bantah dan Perang Makin Memanas
Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran sebenarnya ingin bernegosiasi dengan Amerika Serikat meski Teheran secara resmi membantah adanya pembicaraan untuk mengakhiri perang.

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa para pemimpin Iran sebenarnya ingin bernegosiasi dengan Washington meskipun secara terbuka mereka menyangkal adanya pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri perang.
Trump menuding Iran menyangkal negosiasi tersebut demi menjaga citra politik dalam negeri dan karena takut terhadap reaksi publik di negaranya sendiri.
Pernyataan Trump muncul setelah Iran menolak proposal gencatan senjata 15 poin yang diajukan Amerika Serikat dan justru mengajukan sejumlah tuntutan balasan sebagai syarat penghentian perang.
Trump mengatakan Iran sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat meskipun secara resmi pemerintah Iran membantah adanya negosiasi.
Di sisi lain, Pakistan dan Turki disebut menjadi mediator potensial dalam konflik tersebut. Pemerintah Pakistan sebelumnya menyampaikan bahwa mereka telah meneruskan proposal Amerika Serikat kepada pejabat Iran sebagai bagian dari upaya diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan.
Proposal yang diajukan Amerika Serikat disebut mencakup pencabutan sanksi terhadap Iran, pengurangan program nuklir Iran, pembatasan rudal balistik, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.
Namun Iran menolak tuntutan tersebut dan mengajukan syarat balasan, antara lain pembayaran ganti rugi perang, jaminan tidak ada serangan lanjutan terhadap Iran, penghentian pembunuhan terhadap pejabat Iran, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
“Belum ada negosiasi yang terjadi dengan musuh hingga saat ini, dan kami tidak berencana untuk melakukan negosiasi apa pun,” katanya, seperti dikutip Euronews, Rabu (25/3/2026) waktu setempat.
Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung.
“Mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi mereka takut mengatakannya karena mereka khawatir akan dibunuh oleh orang-orang mereka sendiri,” kata Trump dalam acara penggalangan dana Partai Republik.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran saat perang memasuki hari ke-27. Trump bahkan memperingatkan akan menyerang Iran lebih keras jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dengan Washington.
Serangan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Iran, termasuk di Isfahan yang merupakan lokasi pangkalan militer dan fasilitas nuklir penting. Ledakan juga dilaporkan terjadi di kota Mashhad di bagian timur Iran.
Di Israel, sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv dan wilayah Israel tengah akibat serangan rudal yang diduga berasal dari Iran atau kelompok sekutunya di Lebanon.
Iran juga meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat serta infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Konflik ini juga berdampak pada ekonomi global, terutama setelah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga sekitar 104 dolar AS per barel atau naik sekitar 60 persen sejak perang dimulai.
Korban jiwa akibat konflik juga terus meningkat. Data terbaru menyebutkan lebih dari 1.500 orang tewas di Iran, sekitar 1.100 orang tewas di Lebanon akibat serangan Israel, sementara korban tewas di Israel mencapai 20 orang. Di pihak Amerika Serikat, tercatat 13 tentara tewas, dan sekitar 22 orang tewas di negara-negara Teluk akibat serangan balasan Iran.
Konflik yang terus meningkat ini menimbulkan kekhawatiran bahwa perang dapat meluas dan berdampak lebih besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah serta ekonomi global. (ren)
