Serangan Israel di Gaza Naik 35 Persen Pascagencatan Senjata Iran-Israel

Intensitas serangan Israel di Jalur Gaza meningkat 35 persen sejak gencatan senjata Iran-Israel berlaku pada April 2026. Situasi kemanusiaan di Gaza kembali memburuk.

Kamis, 14 Mei 2026 - 7:00 WIB
Serangan Israel di Gaza Naik 35 Persen Pascagencatan Senjata Iran-Israel
Seorang Warga Palestina sedang bersedih di antara bangunan yang rusak akibat serangan Israel di Jalur Gaza. (Dok X Times of Gaza for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Intensitas serangan militer Israel di Jalur Gaza dilaporkan meningkat tajam sejak diberlakukannya gencatan senjata antara Iran dan Israel pada April 2026.

Laporan terbaru yang dikutip sejumlah media internasional menyebut jumlah serangan Israel di Gaza naik hingga 35 persen dalam lima pekan terakhir, memicu kekhawatiran baru terhadap kondisi warga sipil Palestina.

Data lembaga pemantau konflik Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) menunjukkan peningkatan signifikan dalam operasi udara maupun serangan artileri Israel di sejumlah wilayah Gaza.

Serangan disebut semakin sering terjadi setelah perang langsung antara Iran dan Israel mereda melalui kesepakatan gencatan senjata pada 8 April 2026.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 120 warga Palestina tewas selama periode tersebut. Korban terdiri dari warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Selain korban jiwa, ribuan warga Gaza hingga kini masih hidup di pengungsian dengan kondisi serba terbatas akibat kerusakan infrastruktur yang belum pulih sejak konflik berkepanjangan berlangsung.

Militer Israel menyatakan peningkatan operasi dilakukan karena adanya dugaan Hamas kembali memperkuat persenjataan dan membangun ulang jaringan militernya di Jalur Gaza.

Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai dimulainya operasi darat besar-besaran baru oleh Israel.

Sebelumnya juga dilaporkan bahwa Israel tetap melancarkan serangan hampir setiap hari di Gaza meski gencatan senjata regional telah diumumkan.

Dalam laporan tersebut menyatakan Israel melakukan pemboman di Gaza selama 36 dari 40 hari ketika konflik Iran-Israel berlangsung.
Situasi ini dinilai dapat menghambat upaya diplomasi internasional yang tengah didorong untuk menghentikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Amerika Serikat sebelumnya disebut sedang mendorong pembicaraan damai dan rencana rekonstruksi Gaza pascaperang. Namun meningkatnya eskalasi militer kembali memicu kekhawatiran terhadap peluang tercapainya stabilitas di kawasan.

Sementara itu, organisasi kemanusiaan internasional terus memperingatkan memburuknya kondisi warga sipil di Gaza.

Akses terhadap bantuan makanan, air bersih, obat-obatan, dan layanan kesehatan disebut masih sangat terbatas akibat blokade dan kerusakan fasilitas umum.

Konflik di Jalur Gaza hingga kini masih menjadi perhatian dunia internasional, terutama terkait tingginya jumlah korban sipil serta belum adanya solusi damai permanen antara Israel dan Palestina. (wib)