Sate Bandeng, Warisan Kuliner Kesultanan Banten yang Tetap Bertahan di Era Modern

Kuliner khas Banten, sate bandeng, masih bertahan di tengah modernisasi makanan kekinian. Hidangan warisan Kesultanan Banten ini tetap diminati masyarakat dan wisatawan karena cita rasa gurih serta sejarah panjang yang melekat sebagai identitas budaya daerah.

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:45 WIB
Sate Bandeng, Warisan Kuliner Kesultanan Banten yang Tetap Bertahan di Era Modern
Proses pembakaran sate bandeng khas Banten di dapur tradisional kawasan Serang masih dipertahankan demi menjaga cita rasa warisan kuliner Kesultanan Banten. Foto: Mahesa HalloNews.id

HALLONEWS.ID – Aroma khas ikan bakar bercampur rempah langsung terasa begitu memasuki kawasan Benggala, Kota Serang, Banten.

Di tengah padatnya aktivitas warga dan deretan usaha kuliner tradisional, salah satu makanan khas warisan Kesultanan Banten masih terus dipertahankan hingga saat ini, yakni Sate Bandeng.

Tim liputan hallonews.id mencoba menelusuri jejak kuliner legendaris tersebut dengan mendatangi salah satu pelaku usaha sate bandeng tradisional di kawasan Benggala, Kota Serang, yakni ALIZZAH Kuliner.

Di tempat sederhana itu, proses pembuatan sate bandeng masih dilakukan secara tradisional. Asap pembakaran dari bara arang terlihat mengepul perlahan, sementara aroma santan dan rempah-rempah khas Banten memenuhi area dapur produksi.

Ade Fitri (32), pedagang sate bandeng di ALIZZAH Kuliner, mengatakan makanan khas tersebut bukan sekadar kuliner biasa, melainkan bagian dari warisan budaya masyarakat Banten yang terus dijaga hingga sekarang.

“Kalau sate bandeng ini memang sudah turun-temurun di Banten. Banyak wisatawan dari luar daerah yang sengaja datang mencari makanan khas ini untuk oleh-oleh,” ujar Ade Fitri kepada tim liputan hallonews.id, Sabtu(30/05/2026).

Menurut Ade, proses pembuatan sate bandeng cukup rumit dan membutuhkan waktu panjang dibandingkan olahan ikan lainnya. Tahapan paling sulit berada saat memisahkan daging ikan bandeng dari duri-duri halus yang jumlahnya sangat banyak.

“Bandeng itu terkenal durinya banyak. Jadi harus hati-hati waktu ambil dagingnya supaya benar-benar bersih. Kalau masih ada duri bisa mengganggu saat dimakan,” katanya.

Ia menjelaskan, setelah daging ikan dipisahkan dari kulit dan tulangnya, daging kemudian dihancurkan hingga halus sebelum dicampur santan dan aneka rempah pilihan. Setelah itu adonan dimasukkan kembali ke dalam kulit ikan bandeng utuh lalu dibakar perlahan hingga matang sempurna.

Menurut cerita masyarakat yang berkembang secara turun-temurun, sate bandeng sudah ada sejak masa Kesultanan Banten pada era Sultan Maulana Hasanuddin sekitar abad ke-16.

Kala itu, ikan bandeng menjadi salah satu hasil perairan yang melimpah di wilayah pesisir Banten.

Namun banyaknya duri halus pada ikan bandeng membuat para bangsawan kerajaan kesulitan menyantapnya.

Dari situlah muncul ide sang juru masak kerajaan untuk mengolah ikan bandeng dengan cara mengeluarkan seluruh durinya terlebih dahulu sebelum dimasak kembali menggunakan rempah-rempah khas.

Tim liputan hallonews.id menemukan bahwa hingga kini sebagian pelaku usaha kuliner tradisional di Banten masih mempertahankan metode lama demi menjaga cita rasa autentik sate bandeng.

Bahkan beberapa pengrajin tetap menggunakan pembakaran arang karena dinilai menghasilkan aroma lebih khas dibandingkan pemanggangan modern.

Ade Fitri mengaku permintaan sate bandeng biasanya meningkat saat musim libur panjang, akhir pekan hingga hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Banyak pembeli berasal dari luar daerah yang menjadikan sate bandeng sebagai buah tangan khas Banten.

“Kalau musim liburan biasanya pesanan meningkat. Banyak yang dari Jakarta, Bogor, Tangerang atau luar Banten beli untuk oleh-oleh,” ungkapnya.

Selain dikenal memiliki cita rasa gurih dan tekstur lembut tanpa duri, sate bandeng juga dianggap menjadi simbol identitas budaya masyarakat Banten.

Kuliner tersebut bukan hanya menggambarkan kreativitas pengolahan makanan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah panjang Kesultanan Banten yang masih hidup hingga sekarang.

Di tengah maraknya makanan modern dan cepat saji, keberadaan sate bandeng menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Dari dapur-dapur sederhana di Kota Serang, warisan rasa khas Banten itu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.(esa)