Danau Tasikardi, Mahakarya Teknologi Air Kesultanan Banten yang Belum Mendapat Perhatian

Jejak kecanggihan teknologi pengelolaan air Kesultanan Banten tersimpan di Danau Tasikardi. Pengamat budaya menilai situs bersejarah tersebut merupakan bukti majunya peradaban Banten yang perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pelestarian dan edukasi sejarah.

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:15 WIB
Danau Tasikardi, Mahakarya Teknologi Air Kesultanan Banten yang Belum Mendapat Perhatian
Danau Tasikardi merupakan warisan kecanggihan teknologi pengelolaan air Kesultanan Banten yang masih berdiri kokoh hingga kini dan menyimpan jejak kemajuan peradaban masa lalu. Foto: Tasikardi Lake for HalloNews

HALLONEWS.ID – Danau Tasikardi di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, bukan sekadar destinasi wisata sejarah.

Situs peninggalan Kesultanan Banten ini menyimpan jejak peradaban tinggi yang menunjukkan kemampuan masyarakat Banten pada masa lalu dalam merancang sistem pengelolaan air, irigasi, dan tata kota jauh sebelum teknologi modern berkembang.

Danau buatan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf sekitar tahun 1570–1580 Masehi itu memiliki fungsi strategis sebagai penampung air bagi Keraton Surosowan, lahan pertanian, serta kebutuhan masyarakat sekitar.

Keberadaan Tasikardi menjadi bagian penting dari kebijakan pembangunan Sultan Maulana Yusuf yang dikenal berfokus pada penguatan sektor pertanian, perdagangan, dan infrastruktur Kesultanan Banten.

Berdasarkan berbagai catatan sejarah, air dari Sungai Cibanten dialirkan ke Danau Tasikardi sebelum melalui proses penyaringan alami yang dilakukan di tiga bangunan penyaring atau pengindelan.

Setelah itu, air disalurkan ke kawasan Keraton Surosowan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kerajaan. Sementara kelebihan air dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian masyarakat di kawasan Banten Lama.

Sistem tersebut menunjukkan bahwa Kesultanan Banten telah memiliki konsep pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi. Bahkan, sistem ini dinilai sebagai salah satu bentuk teknologi hidrolik tradisional yang maju pada masanya.

Pengamat budaya Banten, Ade Fitri, menilai Danau Tasikardi merupakan bukti nyata kecerdasan masyarakat Banten pada era Kesultanan dalam mengelola lingkungan dan sumber daya alam.

“Jika melihat fungsi dan desainnya, Tasikardi bukan sekadar danau buatan biasa. Ini merupakan bagian dari sistem tata kota Kesultanan Banten yang dirancang untuk mendukung kehidupan masyarakat, pertanian, hingga kebutuhan keraton. Artinya, leluhur Banten telah memiliki pemikiran yang sangat maju dalam pengelolaan air,” ujar Ade Fitri, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, nilai sejarah Tasikardi tidak hanya terletak pada usianya yang telah mencapai ratusan tahun, tetapi juga pada teknologi yang diterapkan dalam pembangunannya.

Keberadaan saluran air, pengindelan, hingga Pulau Kaputren menunjukkan adanya perencanaan yang matang dalam pengembangan kawasan tersebut.

Ade Fitri menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi asli Tasikardi. Banyak pengunjung datang untuk berwisata, tetapi belum mengetahui bahwa lokasi ini pernah menjadi pusat pengelolaan air yang sangat penting bagi Kesultanan Banten.

“Yang sangat disayangkan adalah minimnya edukasi kepada masyarakat mengenai fungsi asli Tasikardi. Banyak yang datang untuk berwisata, tetapi tidak mengetahui bahwa lokasi ini merupakan pusat pengelolaan air Kesultanan Banten yang sangat penting pada zamannya,” katanya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, fasilitas penunjang informasi sejarah di kawasan tersebut masih terbatas.

Narasi mengenai sistem distribusi air, keberadaan pengindelan, serta fungsi Pulau Kaputren belum tersampaikan secara maksimal kepada pengunjung.

Padahal, aspek-aspek tersebut merupakan daya tarik utama yang membedakan Tasikardi dari destinasi wisata lainnya.

Karena itu, Ade Fitri mendorong pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan, serta pengelola kawasan Banten Lama untuk memperkuat program edukasi sejarah melalui penyediaan papan informasi digital, museum mini, dokumentasi visual, hingga kegiatan literasi budaya yang melibatkan generasi muda.

“Jika dikelola dengan baik, Tasikardi dapat menjadi laboratorium sejarah terbuka tentang teknologi air Nusantara.

Ini bukan hanya aset wisata Kabupaten Serang, tetapi juga warisan peradaban yang menunjukkan bahwa Kesultanan Banten pernah menjadi pusat kemajuan di bidang ekonomi, pertanian, dan teknologi lingkungan,” tegasnya.

Selain menjadi simbol kejayaan Kesultanan Banten, Danau Tasikardi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi sejarah yang mampu menarik wisatawan lokal maupun nasional.

Oleh karena itu, pelestarian kawasan ini dinilai penting agar jejak kecanggihan peradaban Banten dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
(esa)