IPB University dan Prancis Luncurkan FORTRIZ, Kembangkan Beras Fortifikasi untuk Tingkatkan Gizi Anak Indonesia
IPB University bersama mitra Prancis meluncurkan FORTRIZ, program riset pengembangan beras fortifikasi guna meningkatkan asupan gizi anak sekolah dan mendukung program pemenuhan gizi nasional

HALLONEWS.ID – Lembaga Riset Internasional untuk Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal (LRI PGKH) IPB University resmi menjalin kerja sama ilmiah dengan Prancis melalui program FORTRIZ (Fortified Rice for Nutrition).
Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan inovasi beras fortifikasi yang diperkaya vitamin dan mineral guna mendukung berbagai program pemenuhan gizi nasional di Indonesia.
Kesepakatan kerja sama ditandatangani Kepala LRI PGKH IPB University, Prof. Erika Budiarti Laconi, bersama Duta Besar Prancis untuk Indonesia sekaligus Presiden dan CEO Institut de Recherche pour le Développement (IRD), Valerie Verdier, dalam sebuah acara di Jakarta.
Prof. Erika menjelaskan bahwa program FORTRIZ dirancang untuk mengembangkan serta menguji beras yang diperkaya berbagai zat gizi penting.
Inovasi tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas asupan nutrisi, khususnya bagi anak usia sekolah.
“Kolaborasi ini bertujuan mengembangkan dan menguji beras yang diperkaya vitamin dan mineral guna meningkatkan asupan zat gizi penting bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya berbasis riset untuk mendukung peningkatan kualitas gizi anak Indonesia melalui penyediaan pangan yang lebih bernutrisi,” sebut Prof Erika Senin (8/6/2026).
Menurutnya, program ini merupakan bagian dari upaya berbasis penelitian untuk menghadirkan pangan yang lebih bernutrisi sekaligus mendukung peningkatan kualitas gizi anak Indonesia secara berkelanjutan.
Peluncuran FORTRIZ menjadi bagian dari peringatan Tahun Inovasi Indonesia–Prancis 2026 dan menandai 50 tahun kehadiran Institut de Recherche pour le Développement di Indonesia.
Inisiatif ini juga mencerminkan semakin eratnya kemitraan ilmiah kedua negara dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan dan gizi masyarakat.
Valerie Verdier menilai program tersebut memiliki nilai strategis karena persoalan kekurangan mikronutrien masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang dihadapi anak-anak Indonesia.
FORTRIZ melibatkan sejumlah mitra, yakni IRD, SEAFAST Center IPB University, Savica, serta World Food Programme. Kolaborasi ini menggabungkan kekuatan riset, teknologi pangan, pengalaman pelaksanaan program makanan sekolah, hingga dukungan kebijakan.
Dalam implementasinya, tim peneliti akan mengembangkan kernel beras terfortifikasi, menyempurnakan proses produksi lokal, menguji stabilitas kandungan vitamin dan mineral, mengevaluasi kualitas pencampuran beras, serta menilai tingkat penerimaan produk di kalangan pelajar.
Tidak hanya berfokus pada perbaikan gizi, FORTRIZ juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan mendorong pemberdayaan perempuan.
Program ini akan memberikan pelatihan kepada petugas dapur sekolah dan pengelola makanan mengenai gizi, keamanan pangan, serta teknologi fortifikasi pangan.
Hasil penelitian yang diperoleh nantinya diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah dalam memperluas penggunaan beras fortifikasi pada berbagai program pemenuhan gizi nasional, terutama yang menyasar anak usia sekolah dan kelompok rentan lainnya.
Dalam jangka panjang, program ini diproyeksikan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi, memperkuat kualitas kesehatan generasi muda, serta mendukung terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.
Pada peluncuran program tersebut, para mitra menegaskan bahwa FORTRIZ bukan sekadar proyek penelitian gizi, melainkan wujud komitmen bersama Indonesia dan Prancis untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui inovasi ilmiah yang dapat diterapkan secara luas. (opy)
