Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Sebagai Harapan Baru Akhiri Konflik Timur Tengah

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut kesepakatan dengan AS sebagai dokumen bersejarah. MoU 14 poin membuka jalan perdamaian, pembahasan nuklir, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Jumat, 19 Juni 2026 - 7:03 WIB
Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Sebagai Harapan Baru Akhiri Konflik Timur Tengah
Presiden Iran Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Ig Masoud Pezeshkian for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani dengan Amerika Serikat sebagai “dokumen bersejarah” yang membuka jalan baru bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah yang selama berbulan-bulan dilanda konflik.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian setelah tercapainya kesepakatan antara Teheran dan Washington untuk menghentikan permusuhan serta memulai proses normalisasi hubungan yang selama ini diwarnai ketegangan militer dan politik.

Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak mengorbankan martabat maupun kedaulatannya dalam perundingan tersebut.

Menurut pemerintah Iran, kesepakatan itu mencerminkan posisi Iran sebagai negara yang tetap kuat meski menghadapi tekanan internasional dan konflik berkepanjangan.

Pezeshkian menyebut dokumen tersebut sebagai hasil perjuangan diplomatik yang menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa dapat dicapai melalui dialog, bukan konfrontasi.

Kesepakatan yang dikenal sebagai “Islamabad Memorandum” itu berisi 14 poin utama. Di antaranya penghentian operasi militer, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, dimulainya negosiasi lanjutan mengenai isu nuklir Iran, serta langkah-langkah menuju pelonggaran sanksi ekonomi yang selama ini membebani perekonomian Iran.

Dalam kerangka perjanjian tersebut, Amerika Serikat disebut akan memberikan akses lebih luas terhadap aset Iran yang sebelumnya dibekukan serta membuka jalur transaksi keuangan tertentu. Sebagai imbalannya, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan mendukung pemulihan keamanan pelayaran di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi implementasi kesepakatan tersebut. Pemerintah Israel menyatakan keberatan terhadap beberapa aspek perjanjian dan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Iran bahkan memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap poin-poin kesepakatan dapat mengancam proses perdamaian yang sedang dibangun.

Di Washington, Presiden AS Donald Trump menyambut positif penandatanganan MoU tersebut dan menyebutnya sebagai langkah penting untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Namun Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan kembali mengambil tindakan militer apabila Iran tidak mematuhi isi kesepakatan.

Kesepakatan AS-Iran ini mendapat perhatian dunia karena berpotensi mengurangi ketegangan geopolitik yang selama ini memengaruhi stabilitas kawasan dan pasar energi global.

Pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia, diperkirakan dapat membantu menurunkan tekanan terhadap harga energi internasional serta memulihkan kepercayaan pasar global.(wib)