Bea Cukai Sumbawa Pecahkan Rekor, Penerimaan Negara Tembus Rp1,44 Triliun

Bea Cukai Sumbawa mencatat penerimaan negara Rp1,44 triliun hanya dalam empat bulan 2026, melampaui target tahunan berkat lonjakan ekspor tambang dan harga tembaga global.

Senin, 18 Mei 2026 - 21:30 WIB
Bea Cukai Sumbawa Pecahkan Rekor, Penerimaan Negara Tembus Rp1,44 Triliun
KPPBC TMP C Sumbawa mencatat lonjakan penerimaan negara yang signifikan sepanjang empat bulan pertama 2026. Foto: Bea Cukai Sumbawa for Hallonews

HALONEWS.ID – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP C Sumbawa mencatat lonjakan penerimaan negara yang signifikan sepanjang empat bulan pertama 2026. Hingga akhir April, total penerimaan yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp1,44 triliun atau sekitar 228,1 persen dari target tahunan yang ditetapkan pemerintah.

Nilai tersebut bahkan melampaui total penerimaan yang dibukukan sepanjang tahun 2025.

Kepala KPPBC TMP C Sumbawa, Sugeng Hariyanto, menjelaskan mayoritas pemasukan berasal dari aktivitas ekspor konsentrat mineral yang masih memperoleh relaksasi izin ekspor hingga April 2026.

Menurutnya, kontribusi terbesar berasal dari penerimaan Bea Keluar yang mencapai sekitar Rp1,43 triliun. Sementara sisanya berasal dari Bea Masuk sebesar Rp14,28 miliar dan penerimaan cukai sekitar Rp274 juta.

Sugeng menyebut tingginya capaian tersebut juga dipengaruhi kenaikan harga komoditas global, khususnya konsentrat tembaga yang mengalami peningkatan Harga Patokan Ekspor (HPE) pada awal tahun ini.

“Kebutuhan dunia terhadap energi terbarukan dan kendaraan listrik ikut mendorong permintaan tembaga global,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Momentum tersebut dimanfaatkan perusahaan tambang besar di wilayah Sumbawa, termasuk PT Amman Mineral Nusa Tenggara, untuk meningkatkan aktivitas ekspor.

Ia menilai geliat ekspor tambang turut memberi efek domino terhadap perekonomian daerah. Aktivitas logistik di pelabuhan meningkat, usaha jasa penunjang bertumbuh, hingga perdagangan regional ikut terdorong.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 13,64 persen pada triwulan I 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di kawasan Bali-Nusa Tenggara dan didorong lonjakan ekspor luar negeri hingga 827 persen.

Meski demikian, Sugeng mengingatkan tingginya penerimaan negara saat ini merupakan bagian dari masa transisi menuju kebijakan hilirisasi industri pertambangan yang terus didorong pemerintah.

Ia menjelaskan, ketika fasilitas smelter mulai beroperasi penuh, ekspor konsentrat diperkirakan akan menurun sehingga pola penerimaan negara juga ikut berubah.

Menurutnya, kebijakan bea keluar untuk komoditas emas yang mulai diberlakukan sejak akhir 2025 menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat industri hilir nasional agar sumber daya mineral tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah atau produk antara.

“Tujuannya agar nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati di dalam negeri,” katanya.

Di sisi lain, Bea Cukai Sumbawa juga menghadapi tantangan serius dalam pengawasan barang kena cukai ilegal. Hingga April 2026, petugas telah menindak lebih dari 626 ribu batang rokok ilegal di wilayah kerjanya, mendekati total penindakan sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 689 ribu batang.

Sugeng menilai tingginya peredaran rokok ilegal masih menjadi ancaman terhadap penerimaan negara sekaligus keberlangsungan industri legal.

Untuk memperkuat pengawasan, pihaknya menggencarkan operasi gabungan bersama aparat penegak hukum, memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), hingga memperkuat edukasi kepada pedagang dan distributor terkait ciri-ciri rokok ilegal serta ancaman pidananya.

Selain itu, penguatan intelijen lapangan dan pertukaran informasi antarlembaga juga terus ditingkatkan guna memetakan jaringan distribusi barang kena cukai ilegal di wilayah NTB.

Sugeng menegaskan capaian Bea Cukai Sumbawa sejauh ini merupakan hasil keseimbangan antara fungsi pelayanan perdagangan dan pengawasan penerimaan negara.

“Kami ingin perdagangan dan ekspor tetap berjalan lancar, tetapi pengawasan terhadap pelanggaran juga harus diperkuat agar iklim usaha tetap sehat,” ujarnya.

Ke depan, Sumbawa diproyeksikan tetap menjadi salah satu kawasan strategis industri pertambangan nasional, termasuk melalui pengembangan Proyek Elang milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara serta potensi tambang emas yang dikelola PT Sumbawa Timur Mining. (agn)