Diduga Keracunan MBG, Ratusan Siswa Tumbang di NTT dan Lampung

Kasus dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di NTT dan Lampung. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat lebih dari 12 ribu anak menjadi korban sepanjang 2025.

Minggu, 15 Februari 2026 - 11:40 WIB
Diduga Keracunan MBG, Ratusan Siswa Tumbang di NTT dan Lampung
Ilustrasi MBG. Hallonews

HALLONEWS.ID – Dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah dalam dua hari ini, Jumat dan Sabtu (13-14/2/2026).

Kali ini, ratusan siswa, guru, hingga tenaga kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Lampung dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Di Desa Ulu Belang, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, NTT, sebanyak 131 siswa dan guru SDN Ulu Belang mengalami gejala seperti diare, demam, pusing, dan mual.

Selain itu, Kepala SMPN 15 Satar Mese bersama istrinya serta seorang bidan juga ikut terdampak.

Kepala Puskesmas Ponggeok, Adrianus Gaur, menyampaikan sebagian besar korban telah pulih setelah mendapatkan penanganan medis.

“Hingga kini masih terdapat 32 orang yang menjalani perawatan lanjutan,” katanya.

Kesehatan setempat telah mengambil sampel makanan dan air guna memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Ratusan siswa dari tiga sekolah dilaporkan mengalami diare massal usai menyantap menu MBG.

Korban berasal dari SDN 4 Sumberjo, SD Al Munawaroh, serta SMP Negeri 14 Bandar Lampung. Total ratusan siswa, guru, hingga orang tua dilaporkan mengalami gejala serupa.

Beberapa korban harus menjalani perawatan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan setempat.

Menanggapi insiden tersebut, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menegaskan pihaknya akan melakukan investigasi mendalam terhadap satuan pelayanan gizi yang terlibat dalam distribusi MBG.

Ia juga menyoroti adanya kejanggalan jika distribusi makanan dihentikan dalam waktu lama dengan alasan penyesuaian anggaran.

Di tengah berulangnya kasus tersebut, KPAI mengungkap temuan mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan sepanjang 2025, tercatat sebanyak 12.658 anak di Indonesia mengalami keracunan yang diduga berkaitan dengan program MBG.

Menurut Wakil Ketua KPAI Jasra Putra, kasus keracunan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan angka tertinggi ditemukan di beberapa provinsi besar.

Tiga daerah dengan jumlah korban terbanyak yakni Jawa Barat sebanyak 4.877 anak, Jawa Tengah sebanyak 1.961 anak, serta Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 1.517 anak terdampak.

“Berulangnya kasus keracunan menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam aspek keamanan pangan, pengawasan distribusi, serta standar pengolahan makanan,” katanya.

Lembaga tersebut menekankan bahwa program pemenuhan gizi anak sangat penting, namun harus dijalankan dengan standar keamanan tinggi agar tidak menimbulkan dampak kesehatan baru bagi anak-anak.

Pemerintah daerah, penyedia layanan gizi, hingga pengawas program diharapkan memperketat kontrol kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah. (min)