Dugderan Berlangsung Meriah, Warga Semarang Antusias Sambut Ramadan

Tradisi Dugderan 2026 di Kota Semarang berlangsung meriah saat Sekda Jateng Sumarno menabuh beduk di Masjid Agung Jawa Tengah sebagai penanda datangnya Ramadan 1447 H.

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:00 WIB
Dugderan Berlangsung Meriah, Warga Semarang Antusias Sambut Ramadan
Dok Pemprov Jateng Sekda Pemprov Jateng, Sumarno, menabuh beduk di halaman Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026).

HALLONEWS.ID — Warga bersorak ketika Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menabuh beduk dari mimbar halaman Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026). Momen ini terjadi pada tradisi dugderan menjelang bulan Puasa.

Beduk tersebut ditabuh tujuh kali. Setiap tabuhan beduk diiringi dentuman meriam Kolontoko, disusul letupan petasan yang membelah langit senja. Masyarakat yang memadati kompleks MAJT tampak antusias, bersorak, dan mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka.

Pemukulan beduk ini menjadi puncak perayaan Dugderan 2026, tradisi khas Kota Semarang yang telah berlangsung sejak 1881. Ritual tahunan tersebut menjadi penanda dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah.

Mengenakan busana adat bangsawan Jawa, Sumarno berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawiroprojo. Sesaat sebelum menabuh beduk, dia menerima Suhuf Halaqoh dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.

Di hadapan warga Kota Semarang yang memenuhi kompleks MAJT, Sumarno membacakan Suhuf Halaqoh atau surat keputusan penetapan Ramadan dalam bahasa Jawa.

Bagi warga Kota Semarang, Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan menjelang Ramadan. Tradisi itu menjadi warisan budaya yang terus dijaga, sekaligus momentum yang menggerakkan perekonomian warga.

Warga Barito Semarang, Safira, mengaku hampir tidak pernah absen mengikuti perayaan tersebut. Dia menilai, Dugderan selalu menghadirkan suasana meriah, karena ada pawai serta pasar malam di Alun-alun Masjid Agung Kauman

“Selalu happy kalau ada Dugderan, karena banyak makanan dan suka sama karnavalnya. Dulu juga sering naik wahana di Masjid Agung Kauman,” ujarnya.

Menurut Safira, Dugderan telah menjadi identitas khas Kota Semarang. Dia berharap, tradisi nenek moyang tersebut terus dilestarikan hingga generasi mendatang.

Hal senada disampaikan pedagang asal Kabupaten Demak, Misbahul Munir. Dia menilai, perayaan Dugderan sangat membantu pelaku UMKM karena banyak warga yang membeli.

Pada perayaan kali ini, Misbahul menjual es cappuccino, cincau, es buah, es kampul, serta aneka gorengan seperti sosis, siomay, dan otak-otak. Dagangannya pun laris manis sejak sore hari.

“Ketika ada event, UMKM juga ikut jalan. Ini sangat membantu kami para penjual makanan dan minuman. Alhamdulillah hari ini lumayan laris,” kata pedagang asal Kabupaten Demak tersebut.

Sementara itu, Sekda Jateng, Sumarno menjelaskan, perayaan Dugderan merupakan hasil kerja sama Pemprov Jawa Tengah dan Pemkot Semarang. Dia menegaskan, tradisi itu memiliki nilai sejarah dan budaya yang harus terus dijaga.

“Ini adalah kerja sama Pemprov Jateng dengan Pemkot Semarang, Dugderan ini menjadi tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan,” ujar dia dikutip dari jatengprov.go.id.

Melalui Dugderan yang menandai datangnya bulan Ramadan, Sumarno mengajak umat Muslim di Jawa Tengah, mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan sebaik-baiknya.

Lebih lanjut, Sekda Sumarno juga berharap Ramadan membawa keberkahan bagi setiap individu maupun seluruh masyarakat Jawa Tengah.

“Harapannya dapat meningkatkan ketakwaan kepada allah SWT, mudah-mudahan Jawa Tengah terhindar dari bencana, dan kesejahteraan masyarakat semakin baik,” katanya. (gaa)