H Mulyadi Jayabaya: Kepemimpinan, Kepedulian, dan Jalan Sedekah

Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:43 WIB
H Mulyadi Jayabaya: Kepemimpinan, Kepedulian, dan Jalan Sedekah
Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd., Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Lebak dan Pandeglang. Foto: Dokumen Hallonews

HALLONEWS.ID-Di tanah Lebak, nama H. Mulyadi Jayabaya bukanlah nama yang asing. Dua periode memimpin sebagai Bupati Lebak, dikenal pula sebagai pengusaha nasional, dan pernah berkiprah dalam dunia politik nasional. Namun hari ini, masyarakat lebih akrab menyebut beliau dengan satu gelar yang lahir dari cinta umat: “Panglima Sedekah.”

Gelar itu bukan sekadar sebutan, tetapi kesaksian sosial, bahwa kepedulian kepada ulama, pesantren, dan masyarakat kecil bukanlah program musiman, melainkan jalan hidup.

Kepedulian kepada Ulama: Warisan para Pemimpin Saleh

Dalam Islam, kedekatan seorang pemimpin dengan ulama bukan hanya simbol religiusitas, tetapi fondasi keberkahan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fāṭir: 28)

Maka memuliakan ulama berarti memuliakan pewaris para nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Seorang pemimpin yang dekat dengan ulama, mendengar nasihat mereka, dan menjadikan mereka mitra spiritual dalam pembangunan, adalah pemimpin yang menempatkan agama sebagai cahaya kebijakan.

Yang terkesan dari pribadi beliau adalah: selalu mendengar saran kiai. Ini bukan sikap biasa, melainkan cerminan tawadhu’. Padahal jabatan bisa membuat seseorang enggan dinasihati. Namun sejarah mencatat, para pemimpin besar selalu memiliki kedekatan dengan ulama.

Imam Malik رحمه الله berkata:

“لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها.”
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik.”

Dan generasi awal menjadi baik karena sinergi antara umara dan ulama.

Panglima Sedekah: Kepemimpinan yang Mengalirkan Manfaat

Julukan “Panglima Sedekah” lahir dari kepedulian nyata terhadap pesantren dan masyarakat. Dalam Islam, sedekah bukan sekadar memberi, tetapi investasi akhirat.

Allah ﷻ berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
(QS. Al-Baqarah: 261)

Satu sedekah bisa berlipat hingga tujuh ratus kali lipat. Apalagi jika sedekah itu menyentuh pesantren, tempat lahirnya generasi penjaga agama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Manfaat sosial yang luas, pembangunan, bantuan untuk ulama, dan dukungan terhadap pendidikan Islam, adalah bentuk nyata dari hadits tersebut.

Menyatu dengan Ulama: Jalan Husnul Khatimah

Hari ini, Selasa 17 Februari 2026, beliau berada di tengah para kiai dan ulama dalam acara munggah puasa. Ini bukan sekadar kehadiran seremonial, tetapi simbol kesetiaan hati kepada lingkungan orang-orang saleh.

Imam Ahmad رحمه الله pernah berkata:

“إن لم تكن من العلماء فكن محبًّا لهم، فإن لم تكن محبًّا لهم فلا تبغضهم.”
“Jika engkau tidak mampu menjadi ulama, maka cintailah mereka. Jika tidak mampu mencintai mereka, jangan membenci mereka.”

Berada di majelis ulama menjelang Ramadan adalah tanda hati yang hidup. Karena Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan keberkahan yang sering menjadi penutup indah perjalanan hidup seseorang.

Doa kita bersama: Semoga beliau tetap menyatu dengan para kiai dan ulama. Semoga langkah-langkah sedekahnya menjadi cahaya di alam barzakh kelak. Semoga Allah anugerahkan umur yang berkah, amal yang diterima, dan husnul khatimah.

Penutup Reflektif

Kepemimpinan sejati bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang kebermanfaatan. Bukan tentang jabatan, tetapi tentang kedekatan dengan orang-orang saleh. Bukan tentang dunia, tetapi tentang bagaimana dunia menjadi jalan menuju akhirat.

Jika pemimpin dekat dengan ulama, dan hartanya mengalir untuk umat, maka masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai pejabat, tetapi sebagai pelayan umat.

Semoga Allah menjaga para pemimpin yang mencintai ulama dan pesantren. Karena ketika umara dan ulama bersatu, di situlah negeri menemukan keberkahannya.***

Berita Lainnya :

Opini

Update