Harimau Ompong di Tengah Rimba Partai
Demokrasi Indonesia dinilai tengah mengalami krisis akibat dominasi elite partai, lemahnya pendidikan politik, dan mandeknya reformasi antikorupsi. Opini ini menyoroti pentingnya keberanian, keadilan, dan penegakan hukum untuk menyelamatkan masa depan bangsa.

HALLONEWS.ID – Demokrasi kita hari ini sedang sakit. Bukan karena rakyat kehilangan suara, tetapi karena suara itu sudah terlalu lama diperdagangkan.
Partai-partai politik, yang dahulu lahir dari idealisme dan pengorbanan, kini berubah menjadi pasar besar tempat nurani dijual dan pengabdian diukur dengan materi.
Anggota dewan tak lagi dipilih dari kedalaman pikiran dan keluasan pendidikan, tetapi dari kemampuan mengamankan kepentingan. Pendidikan politik mati sebelum sempat tumbuh.
Yang lebih menyedihkan, banyak anggota partai tahu ada yang salah, tahu ada kebusukan, tahu ada ketidakberesan. Tetapi mereka diam.
Tak ada yang berani berkata kepada ketua partai. Sebab hampir semua ketua partai hari ini menjelma menjadi raja kecil: otoriter, tak tersentuh, dan merasa partai adalah milik pribadi.
“Akulah raja.”
Kalimat itu mungkin tak pernah mereka ucapkan. Tetapi sikap mereka sudah cukup menjelaskannya.
Di tengah keadaan itu, presiden berjalan seperti orang yang dikepung tembok. Informasi yang masuk tersaring, diganjal, dibelokkan.
Dua tahun terakhir menjadi bukti bagaimana akses kepada kepala negara semakin sempit. Yang sampai kepadanya seringkali hanya angin surga; laporan manis yang meninabobokkan.
Seorang pemimpin yang hanya mendengar kabar baik, sesungguhnya sedang digiring menuju kebutaan.
Di sisi lain, ada kegelisahan yang tumbuh dalam tubuh militer. Ketika aturan dilanggar, ketika protap dan tata kehormatan institusi dikorbankan demi loyalitas pribadi, luka itu tidak kecil. Ia melukai kehormatan korps. Dan kehormatan yang terluka akan meninggalkan dendam sejarah.
Para menteri pun akhirnya hidup dalam ketakutan. Psikologi kekuasaan menciptakan kompleks: takut salah, takut bicara, takut berbeda. Maka lahirlah kebijakan-kebijakan timpang. Negara berjalan, tetapi pincang.
Ketika mahasiswa turun ke jalan membawa suara kebenaran, seharusnya itu menjadi cermin.
Sebab sejarah selalu memberi tanda sebelum runtuh. Tetapi bila suara itu justru dibalas dengan bayang-bayang militerisme, rakyat akan mulai mengingat masa lalu: Orde Baru, kekuasaan panjang, dan ketakutan yang diwariskan.
Dan sejarah Indonesia terlalu pahit untuk diulang. Negeri ini katanya ingin menjadi harimau dalam pemberantasan korupsi. Tetapi sampai hari ini, yang tampak hanyalah harimau ompong: mengaum keras, tetapi tak menggigit.
UU Perampasan Aset Tertunda
UU Perampasan Aset terus tertunda. Koruptor tetap tersenyum. Yang dikejar justru agenda-agenda lain yang lebih menguntungkan elite.
Mengapa? Karena korupsi bukan lagi penyakit perorangan. Ia sudah menjadi sistem. Maka harimau itu kini tubuhnya penuh kutu: kutu partai, kutu kepentingan, kutu oligarki. Padahal jalan keluar itu ada.
Jika keberanian sungguh hadir, negara bisa berdiri tegak: pendidikan gratis sampai SMA, jaminan kesehatan gratis, penegakan hukum tanpa pandang bulu, penyitaan aset koruptor, hukuman berat bagi pencuri uang rakyat.
Rakyat tidak pernah meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup layak, sekolah murah, rumah sakit terbuka, dan hukum yang adil. Itulah politik sejati.
Bukan bagi-bagi proyek. Bukan pencitraan. Bukan makan bergizi yang menjadi alat kampanye jangka panjang. Sebab bila kebijakan lahir bukan dari kebutuhan rakyat, melainkan dari kalkulasi elektoral, maka ia akan berbalik menjadi bumerang.
Bangsa ini selalu melahirkan putra-putra baik. Sejarah tak pernah kekurangan orang baik. Yang sering kurang hanyalah keberanian memberi mereka ruang.
Indonesia bukan milik satu suku, satu keluarga, atau satu kelompok. Indonesia adalah rumah besar. Dan rumah besar hanya bisa berdiri jika kejujuran menjadi tiangnya, keadilan menjadi dindingnya, dan keberanian menjadi atapnya.
Kalau tidak, kita hanya sedang menunggu hujan besar merobohkannya. Dan sejarah tidak pernah kasihan kepada bangsa yang membiarkan dirinya dibohongi terlalu lama.(Mathias Brahmana/Penulis adalah Dewan Redaksi Hallonews)
