Hegseth Ancam Iran Soal Ranjau Hormuz, AS Perketat Blokade dan Desak Tinggalkan Nuklir
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut pemasangan ranjau Iran di Selat Hormuz sebagai pelanggaran gencatan senjata.

HALLONEWS.ID – Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, memperingatkan Iran agar tidak memperburuk situasi di Selat Hormuz dengan memasang ranjau laut.
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dan akan mendapat respons tegas dari militer AS.
“Upaya untuk secara sembrono dan tidak bertanggung jawab memasang lebih banyak ranjau merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata,” ujar Hegseth dalam pernyataannya di Pentagon, Kamis (23/4/2026) waktu setempat.
Menurutnya, lalu lintas kapal di Selat Hormuz saat ini masih terbatas dan belum kembali normal seperti yang diharapkan.
Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya memerintahkan Angkatan Laut untuk mengambil tindakan keras terhadap kapal Iran yang mencoba menanam ranjau.
Di sisi lain, Hegseth juga mengkritik sikap negara-negara Eropa yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret dalam merespons krisis tersebut.
“Saya melihat banyak pembicaraan, konferensi di Eropa yang membahas kemungkinan tindakan, tetapi itu belum merupakan upaya serius,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sekutu AS, terutama di Eropa dan Asia, memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi global.
“Ini adalah peringatan bagi dunia. Jika Anda tidak memiliki kemampuan, maka Anda berada di bawah kendali negara seperti Iran,” tegasnya.
Hegseth juga menyebut blokade angkatan laut AS terhadap Iran terus diperkuat secara bertahap.
“Blokade semakin diperketat dari jam ke jam. Kami memegang kendali. Tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kapal induk tambahan akan segera dikerahkan untuk memperkuat operasi di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Hegseth mendesak Iran untuk segera mengambil keputusan strategis terkait program nuklirnya.
“Yang harus mereka lakukan hanyalah meninggalkan senjata nuklir dengan cara yang bermakna dan dapat diverifikasi, atau menyaksikan kondisi ekonomi mereka runtuh,” katanya.
Ia menegaskan kembali sikap AS bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang melibatkan konflik antara Iran dan sekutunya dengan kekuatan Barat. (ren)
