Hillary Clinton Tantang Trump Bersaksi di Bawah Sumpah Soal Berkas Epstein
Hillary Clinton menyatakan tidak mengetahui kejahatan Jeffrey Epstein dan mendesak Donald Trump diperiksa di bawah sumpah. Simak kronologi lengkap kasus Epstein yang mengguncang AS.

HALLONEWS.ID — Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton menyampaikan pernyataan pembukaan di hadapan House Oversight Committee pada Rabu (25/2/2026) waktu setempat. Hillary menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki informasi apa pun terkait aktivitas kriminal Jeffrey Epstein maupun Ghislaine Maxwell.
Dalam pernyataannya, Clinton menyebut pemanggilan dirinya didasarkan pada asumsi bahwa ia mengetahui detail penyelidikan terhadap Epstein.
“Izinkan saya menjelaskan sejelas mungkin. Saya tidak memilikinya. Saya sama sekali tidak tahu tentang aktivitas kriminal mereka. Saya tidak ingat pernah bertemu dengan Tuan Epstein,” tegasnya.
Namun Clinton juga melontarkan tantangan politik yang tajam kepada Donald Trump.
“Jika Komite ini serius ingin mengetahui kebenaran tentang kejahatan perdagangan manusia Epstein, mereka tidak akan bergantung pada kerumunan pers untuk mendapatkan jawaban dari presiden kita saat ini; mereka akan menanyakan langsung kepadanya di bawah sumpah,” ujarnya.
Tuduhan Penutupan Dokumen
Dalam keterangannya, Clinton juga merujuk pada laporan yang menyebut Departemen Kehakiman AS menahan sebagian dokumen dalam berkas Epstein.
“Sebuah komite yang dipimpin oleh pejabat terpilih dengan komitmen terhadap transparansi akan memastikan pengungkapan penuh semua berkas tersebut,” katanya.
Ia menegaskan bahwa setiap penyuntingan dokumen harus dilakukan untuk melindungi korban, bukan figur berkuasa.
Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicara menyatakan Trump telah “sepenuhnya dibebaskan dari segala tuduhan terkait Epstein.” Departemen Kehakiman menyebut pihaknya tengah meninjau dokumen tambahan yang mungkin akan dirilis.
Trump sendiri secara konsisten membantah melakukan kesalahan apa pun, meski mengakui pernah mengenal Epstein sebelum kasus hukum mencuat.
Kronologi Kasus Jeffrey Epstein
Kasus Jeffrey Epstein telah menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah hukum dan politik Amerika Serikat. Berikut garis besar kronologinya:
Pada tahun 2005, polisi Florida mulai menyelidiki laporan bahwa Epstein merekrut gadis di bawah umur untuk aktivitas seksual di kediamannya di Palm Beach.
Pada tahun 2008, Epstein mengaku bersalah atas tuduhan meminta layanan prostitusi dari anak di bawah umur. Ia menjalani hukuman ringan melalui kesepakatan pembelaan yang kemudian banyak dikritik karena dianggap terlalu lunak.
Selanjutnya, pada Juli 2019, Epstein ditangkap kembali di New York atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur.
Pada Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di sel tahanannya di Manhattan. Kematian tersebut secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, tetapi memicu teori konspirasi luas dan tuntutan transparansi.
Kemudian, pada tahun 2021–2022, Ghislaine Maxwell diadili dan dinyatakan bersalah atas sejumlah dakwaan terkait perdagangan seks anak.
Pada tahun 2024–2026, Departemen Kehakiman AS merilis jutaan halaman dokumen terkait Epstein, termasuk daftar nama tokoh bisnis, politik, dan publik yang pernah berhubungan dengannya. Kemunculan nama dalam dokumen tidak otomatis menunjukkan keterlibatan kriminal.
Bill Clinton akan Bersaksi
Mantan Presiden AS Bill Clinton dijadwalkan memberikan kesaksian pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat. Ia sebelumnya mengakui pernah bepergian dengan pesawat Epstein pada awal 2000-an untuk kegiatan yayasan, tetapi membantah mengetahui aktivitas ilegal.
Pemanggilan keluarga Clinton sempat menuai perdebatan politik. Awalnya mereka menolak hadir dan menyebutnya bermotif politik, namun akhirnya menyetujui untuk bersaksi setelah ancaman sanksi penghinaan Kongres.
Pertarungan Politik dan Transparansi
Ketua komite dari Partai Republik menyatakan publik berhak mengetahui seluruh fakta mengenai hubungan para tokoh politik dengan Epstein.
Di sisi lain, Partai Demokrat menilai penyelidikan terhadap keluarga Clinton dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian dari relasi Trump dengan Epstein di masa lalu.
Dengan jutaan dokumen yang telah dirilis dan tuntutan transparansi yang terus menguat, kasus Epstein tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga pertarungan politik yang mempengaruhi lanskap demokrasi Amerika Serikat. (ren)
