Kain Jadi Properti Penting pada Prosesi Mambalun di Mamasa
Masyarakat Mamasa memiliki ritual adat mambalun (membalun) jenazah, jasad, dan tulang belulang yang membutuhkan sejumlah kain

HALLONEWS.ID – Mambalun (membalun) jenazah, jasad, dan tulang belulang membutuhkan sejumlah kain.
Banyaknya kain tergantung dari kesiapan keluarga yang akan membalun.
Sejumlah kain yang dipakai dalam mambalun seperti kain katun putih, kain saung, selimut, kain sambu (kain tenun khas Mamasa).
Seperti yang dilakukan dalam Mambalun Jasad dan Tulang Belulang Leluhur dari Keluarga Keturunan Pana-Sara di pemakaman keluarga Rante Induk, Kelurahan Tawalian, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Rabu (1/4/2026) dan Kamis (2/4/2026).
Keturunan yang berasal dari Kecamatan Simbuang, Tana Toraja ini sudah mencapai turunan ketujuh.

Foto: Hallonews/Pingkan Elita Dundu
Pihak keluarga menyediakan kain-kain tersebut. Bahkan, ada keluarga yang menyiapkan bedcover untuk menambah volume dari buntalan jasad dan tulang belulang agar lebih besar.
Lembaran kain yang digunakan bervariasi tergantung keinginan dari masing-masing keluarga. Mulai dari tujuh lembar kain dan ada yang mencapai 20 lembar kain.
Tulang belulang Malia paling sedikit menggunakan lebih dari enam lembar kain, di antaranya kain katun putih sepanjang 20 meter, dua sarung, dua selimut, selembar kain merah, dan selembar sambu.
Sementara, keluarga Andaris Kariwangan menyiapkan lebih dari 15 lembar kain.
Kain-kain tersebut digelar di atas panggung yang beralaskan karpet merah, yang dibangun khusus untuk acara itu. Kain-kain ini disusun rapih dengan urutan paling bawah sambu, selanjutnya, selimut, sarung, dan paling atas kain katun putih.
Setelah semua jasad dan tulang belulang dikeluarkan dari makam, petugas khusus membalun (pembalun) didampingi keluarga membantu mengatur kain yang akan digunakan mambalun. Pekerjaan membalun dilakukan, setelah menjalani ritual awal memotong tiga hewan, yakni ayam, babi, dan anjing.
Setelah siap, pihak keluarga masing-masing meletakkan satu persatu jasad dan tulang belulang di atas kain-kain tersebut.
Saat mambalun dilakukan secara bergiliran. Selain karena ada 20 jasad dan tulang belulang, juga keterbatasan panggung tempat membalun. Kain yang membungkus jasad dan tulang belulang yang sudah berupa buntalan tidak dikeluarkan, tinggal menambah kain baru lagi. Sementara jasad dalam peti dikeluarkan (jasad terbungkus kain) kemudian dibalun.
Sebelum dibalun, satu per satu buntalan dan peti berisi jasad dan tulang belulang didata dan diberi nama agar tidak ada yang tertukar. Jasad yang terbungkus kain sarung dan sambu dalam peti dikeluarkan.
Buntalan paling kecil berisi tengkorak dan tulang belulang, di antaranya Malia (keturunan kedua) yang dipanggil Ambe/Ambo Milla. Sementara buntalan besar antara lain jasad Petrus Kariwangan (keturunan keempat) yang meninggal tahun 2005 pada usia 88 tahun.
Jasad dalam peti berukuran besar antara lain Andarias Kariwangan yang meninggal tahun 2023. Sementara, peti berukuran kecil tidak diketahui namanya.
Namun, saat peti ini dibuka, petugas dan keluarga tidak ditemukan jasadnya, namun dalam peti berisi sandal orang dewasa dengan corak untuk wanita. “Orang pintar mengatakan, jasadnya sudah menjadi mumi dan sedang berjalan-jalan di luar makam untuk mencari tempatnya,” kata Tokoh Adat Tawalian, Demianus Solon.
Terharu
Sebelum pembalun bekerja, pihak keluarga diberi kesempatan melihat jasad dari orang terkasih yang telah berpisah bertahun-tahun. Ada yang membuka balutan jasad dan tulang belulang dan sebagian lagi hanya duduk di depan buntalan keluarganya.
Isak tangis kerinduan tak terbendung. “Olle kasi nenek,” ujar seorang ibu menangisi neneknya Ludia Sabara Tekkay yang meninggal tahun 1966. Ibu muda ini belum lahir saat neneknya meninggal dunia. ***
(Pingkan Elita Dundu, Wartawan dari Tangerang)
