Karhutla Belum Reda, BNPB Genjot Pemadaman di Kalbar, Riau, dan Sumsel
BNPB mengintensifkan penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Riau, dan Sumatera Selatan. Kalbar menjadi provinsi dengan luas lahan terbakar terbesar sepanjang 2026.

HALLONEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi yang menjadi prioritas nasional, yakni Kalimantan Barat, Riau, dan Sumatera Selatan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan upaya pemadaman dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan udara dengan melibatkan berbagai instansi guna menekan penyebaran api.
“Langkah ini dilakukan menyusul meluasnya area yang terdampak kebakaran hingga mencapai puluhan ribu hektare sejak awal 2026,” kata Abdul Muhari, Minggu (5/7/2026).
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan kebakaran terluas. Sepanjang Januari hingga akhir Juni 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 28.216,31 hektare. Berdasarkan pemantauan satelit terbaru, masih terdeteksi 25 titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah.
Sementara di Provinsi Riau mencatat luas lahan terbakar sebesar 15.231,44 hektare hingga 2 Juli 2026. Pemerintah daerah masih memberlakukan status siaga darurat karhutla hingga 30 November 2026.
Meski luas lahan yang terdampak cukup besar, BNPB menyebut hasil evaluasi terbaru menunjukkan belum ada penambahan area kebakaran baru di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Lancang Kuning tersebut.
Di Sumatera Selatan, kebakaran hutan dan lahan mencapai 305,39 hektare selama periode Januari hingga Juni 2026. Operasi pemadaman terus dilakukan melalui jalur darat maupun udara untuk mencegah api meluas.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, satuan tugas gabungan yang didukung BNPB menggelar operasi water bombingpada Kamis (3/7/2026). Operasi itu berhasil memadamkan kebakaran di area seluas sekitar sembilan hektare.
“Selain fokus memadamkan api, kami juga memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino,” ungkapnya.
Berbagai strategi mitigasi terus dijalankan, mulai dari operasi modifikasi cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, pemasangan jaringan pipa air, hingga percepatan distribusi air bersih ke daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan.
BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla selama musim kemarau, serta menghindari aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu meluasnya kebakaran. (dul)
