Kekeringan Meluas di Kota Bogor, Dinkes Waspadai Heat Stroke-BPBD Salurkan Air Bersih

Musim kemarau memperparah kekeringan di Kota Bogor. Dinkes mengingatkan bahaya heat stroke, sementara BPBD menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak dan Pemkot mendorong perluasan jaringan Perumda Tirta Pakuan

Senin, 27 Juli 2026 - 15:30 WIB
Kekeringan Meluas di Kota Bogor, Dinkes Waspadai Heat Stroke-BPBD Salurkan Air Bersih
kekeringan meluas akibat kemarau, Dinkes Kota Bogor antisipasi penyakit. (Foto: Humas Pemkot Bogor for hallonews)

HALLONEWS.ID – Musim kemarau yang berkepanjangan memicu kekeringan di sejumlah wilayah Kota Bogor. Selain menyebabkan krisis air bersih, kondisi cuaca panas ekstrem juga meningkatkan risiko kebakaran serta gangguan kesehatan, salah satunya heat stroke.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena, menjelaskan heat stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika suhu tubuh mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.

Kondisi tersebut dapat memicu gangguan kesadaran, seperti kebingungan, kejang, hingga pingsan, dan berpotensi berakibat fatal apabila tidak segera ditangani.

Menurut Erna, heat stroke berbeda dengan demam akibat infeksi. Kondisi ini umumnya dipicu oleh paparan panas berlebih atau aktivitas fisik berat di lingkungan bersuhu tinggi sehingga membutuhkan penanganan segera di fasilitas kesehatan.

Kelompok yang paling rentan mengalami heat stroke meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.

Risiko juga meningkat pada pekerja lapangan, seperti pedagang kaki lima, juru parkir, pengemudi, maupun masyarakat yang beraktivitas dalam waktu lama di bawah terik matahari.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain suhu tubuh meningkat secara tiba-tiba, kulit terasa panas, sakit kepala, mual, jantung berdebar, napas cepat, kebingungan, bicara tidak jelas, hingga perubahan perilaku.

“Jika gejala tersebut muncul, masyarakat harus segera mencari pertolongan medis agar mendapatkan penanganan secepat mungkin,” ujar Erna.

Untuk mencegah heat stroke, Dinkes mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB saat intensitas sinar matahari sedang tinggi.

Warga juga dianjurkan mengenakan pakaian longgar, menggunakan topi atau payung, memperbanyak konsumsi air putih, serta beristirahat secara berkala di tempat yang teduh apabila bekerja di luar ruangan.

Apabila menemukan seseorang yang diduga mengalami heat stroke, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan korban ke tempat yang lebih sejuk dan menjauhkannya dari paparan sinar matahari langsung sebelum mendapatkan bantuan medis.

Puluhan KK Terdampak Kekeringan

Di sisi lain, dampak musim kemarau juga dirasakan warga RT 004 RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara.

Sebanyak 50 kepala keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih setelah sumber mata air dan sumur warga mengering.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan laporan diterima melalui media sosial dan langsung ditindaklanjuti dengan asesmen oleh Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB).

Petugas kemudian berkoordinasi dengan pihak kelurahan, kecamatan, serta pengurus RT dan RW sebelum mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak.

Kekeringan juga terjadi di RT 01 RW 12, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat. Di lokasi tersebut, BPBD menyalurkan 8.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Hasil asesmen menunjukkan kekeringan dipicu mengeringnya sumber mata air dan sumur warga sehingga kebutuhan air bersih sehari-hari tidak lagi dapat dipenuhi secara mandiri.

BPBD memastikan distribusi bantuan telah selesai dilakukan dan akan terus memantau perkembangan di lapangan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan wilayah yang mulai mengalami krisis air bersih agar penanganan dapat dilakukan secepatnya.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, meminta Perumda Tirta Pakuan mempercepat perluasan jaringan distribusi air bersih, terutama di wilayah yang masih bergantung pada sumur.

Menurutnya, ketersediaan air baku di Kota Bogor masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 80 persen warga.

Namun, keterbatasan jaringan distribusi membuat sebagian masyarakat belum dapat menikmati layanan air perpipaan.

Saat ini cakupan layanan Perumda Tirta Pakuan baru mencapai 75,46 persen penduduk, sementara target akses air minum aman dalam indikator Sustainable Development Goals (SDGs) mencapai 90 persen.

Jenal meminta Kedunghalang menjadi salah satu prioritas perluasan jaringan apabila masih banyak warga yang mengandalkan sumur sebagai sumber air utama.

Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, Pemkot tetap mengandalkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki bagi wilayah yang mengalami kekeringan.

Ia juga meminta aparat kelurahan dan kecamatan aktif memantau kondisi di wilayah masing-masing serta segera melaporkan titik-titik kekeringan melalui layanan Si Badra maupun jalur koordinasi pemerintah setempat.

“Pemkot harus hadir memberikan solusi, baik jangka pendek melalui distribusi air bersih maupun jangka panjang melalui perluasan jaringan pelayanan air,” tegas Jenal. (opy)