Ketegangan Korea-AS Memuncak! Skandal Coupang dan Macetnya Legislasi Ancam Investasi Raksasa
Skandal Coupang menambah panas hubungan Korea-AS! Ketegangan politik di Seoul dan ancaman tarif 25% dari Washington kini mengancam investasi raksasa senilai 350 miliar dolar AS.

HALLONEWS.ID-Hubungan dagang antara Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) kian memanas. Negeri Ginseng kini berada dalam tekanan besar setelah Washington mengancam menaikkan tarif impor menjadi 25 persen, buntut dari mandeknya pengesahan undang-undang investasi senilai 350 miliar dolar AS yang dijanjikan Seoul.
Pemerintah Korea telah membentuk komite khusus parlemen untuk mempercepat legislasi tersebut, namun sidang perdana justru berakhir ricuh akibat tarik-menarik kepentingan antarpartai. Komite itu hanya diberi waktu hingga 9 Maret, dan sejauh ini belum tampak tanda kompromi politik yang nyata.
AS menilai Seoul menunda ratifikasi kesepakatan perdagangan bilateral yang diteken sejak November 2025. Jika tarif benar-benar dinaikkan ke 25 persen, dampaknya akan menghantam jantung ekonomi ekspor Korea, khususnya sektor otomotif.
Menurut Daol Investment & Securities, gabungan kerugian Hyundai Motor Group dan Kia Corporation bisa mencapai 11 triliun won, belum termasuk kerugian pada produsen ban dan komponen kendaraan lainnya.
Masalah kian pelik dengan munculnya kasus besar lain yang mengguncang hubungan kedua negara yaitu skandal kebocoran data Coupang. Perusahaan e-commerce raksasa ini tengah diselidiki otoritas Korea atas dugaan pelanggaran perlindungan data pengguna.
CEO sementara Coupang, Harold Rogers, telah beberapa kali diperiksa polisi dan parlemen. Kasus ini bahkan menarik perhatian Kongres AS, yang menuduh penyelidikan Seoul sebagai bentuk “perlakuan tidak adil” terhadap perusahaan teknologi Amerika. Rogers dijadwalkan bersaksi di hadapan Komite Kehakiman DPR AS pada 23 Februari mendatang.
Pemerintahan Donald Trump, yang kembali mengusung agenda “America First,” diyakini akan menjadikan kesaksian Rogers sebagai pembenaran baru untuk memperketat kebijakan perdagangan terhadap Korea.
Meski pemerintah Korea menegaskan penyelidikan Coupang dan isu tarif adalah dua hal berbeda, pengamat menilai Washington bisa melihat keduanya saling terkait.
“Jika kesaksian Rogers memperburuk persepsi di Kongres, potensi kenaikan tarif akan semakin besar,” ujar seorang analis industri di Seoul seperti dikutip dari The Korea Times, Senin (16/2/2026).
Jika tak segera ada langkah diplomatik konkret, Korea berisiko kehilangan momentum investasi dan kepercayaan investor asing di tengah pusaran konflik politik serta tekanan ekonomi dari Washington. (ren)
