Khamenei Gugur, JK Ingatkan Risiko Pergolakan Politik Internal Iran

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan duka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Ia mempertanyakan langkah militer Amerika Serikat dan Israel yang dilakukan saat proses perundingan masih berlangsung.

Senin, 2 Maret 2026 - 7:07 WIB
Khamenei Gugur, JK Ingatkan Risiko Pergolakan Politik Internal Iran
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Foto: Biro Setwapres for Hallonews.

HALLONEWS.ID – Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki babak baru.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai serangan di tengah negosiasi mencederai etika diplomasi internasional.

JK juga menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

“Eskalasi tersebut terjadi pada momentum yang dinilai tidak tepat, mengingat Teheran dan Washington tengah menjalani proses negosiasi,” katanya dalam keterangan pada Minggu (1/3/2026).

Ia menilai tindakan militer di tengah jalur diplomasi yang belum selesai memunculkan pertanyaan serius dari sisi etika hubungan internasional.

Selain itu, JK menyoroti ironi meningkatnya konflik bersenjata di berbagai kawasan, terutama yang melibatkan negara-negara dunia Islam, terlebih berlangsung pada bulan Ramadan.

Ia mempertanyakan komitmen dialog apabila pada saat bersamaan aksi militer tetap dilakukan.

JK juga mengkritisi kecenderungan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilainya kerap mengambil langkah keras terhadap pihak yang berbeda pandangan strategis.

“Situasi ini, kata dia, semakin memperumit stabilitas kawasan dan memperbesar risiko konflik terbuka,” ujarnya.

Di sisi lain, JK menilai wafatnya Khamenei akan memicu dinamika politik internal di Iran.

Ia mengungkapkan bahwa di dalam negeri Iran terdapat tiga arus besar yakni kelompok pemerintahan yang mempertahankan sistem saat ini, kelompok reformis yang mendorong perubahan pasca puluhan tahun kekuasaan, serta faksi monarki lama yang berafiliasi dengan dinasti Pahlavi.

“Dua kelompok terakhir bisa saja melihat situasi ini sebagai momentum politik,” ucapnya.

Namun demikian, JK menegaskan bahwa penghilangan nyawa seorang pemimpin negara melalui serangan militer tetap menjadi peristiwa yang patut disesalkan dan menimbulkan keprihatinan mendalam.

Di tengah memanasnya konflik, JK menyebut Indonesia memiliki tanggung jawab moral sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia untuk menyuarakan penghentian kekerasan.

“Meski mengakui bahwa peran mediasi bukan perkara mudah, hal ini jadi seruan moral dan doa agar perang segera berakhir tetap penting dikedepankan,” tukasnya. (fer)