Kisah Ketua TP PKK Banten Tinawati Andra Soni Menghidupkan Semangat Kartini di Tengah Zaman Modern
Dari peran senyap sebagai pendamping hingga tampil sebagai penggerak perubahan, perjalanan Ketua TP PKK Banten ini menunjukkan bahwa semangat Kartini hari ini hidup dalam aksi nyata memberdayakan perempuan dari rumah hingga ruang publik.

HALLONEWS.ID – Tidak semua perjalanan dimulai dari panggung depan. Ada yang tumbuh perlahan, dari ruang-ruang sunyi, dari peran yang kerap tak terlihat. Begitulah kisah Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni, seorang perempuan yang awalnya lebih banyak berada di balik layar, mendampingi perjalanan politik sang suami, Gubernur Banten, Andra Soni, hingga akhirnya berdiri di garis depan sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat.
Seiring waktu, peran itu berkembang. Ia tak lagi sekadar hadir dalam seremoni, tetapi menjelma menjadi figur publik yang membawa isu-isu penting: pendidikan keluarga, kesehatan ibu dan anak, hingga pemberdayaan perempuan. Momentum itu menjadi titik balik, bahwa perempuan tidak hanya mendampingi, tetapi juga memimpin perubahan.
Bagi Tinawati, Hari Kartini bukan sekadar mengenang sejarah. Lebih dari itu, Kartini adalah pengingat bahwa perempuan memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Di Banten, semangat itu diterjemahkan secara sederhana namun berdampak: perempuan didorong untuk terus belajar, berani mencoba, dan aktif berkontribusi, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Mulai dari kegiatan PKK, usaha rumahan, hingga pendidikan anak, semuanya menjadi bagian dari gerakan kecil yang jika dikumpulkan, mampu menciptakan perubahan besar.
“Perempuan harus mandiri, percaya diri, dan membawa perubahan, tanpa kehilangan nilai budaya,” kata Tinawati kepada Hallonews, Senin (20/4/20260.
Perempuan dan Dua Dunia: Antara Rumah dan Ruang Publik
Satu tantangan klasik yang masih relevan hingga kini adalah soal keseimbangan. Perempuan, terutama ibu, kerap berada di persimpangan: antara tanggung jawab domestik dan keinginan untuk berkembang.
Ia melihat realitas itu dengan jernih. Di satu sisi, perempuan adalah fondasi keluarga, penjaga nilai, pembentuk karakter, dan penguat harmoni. Di sisi lain, mereka juga memiliki kapasitas penuh untuk berkiprah di ruang publik.
Namun tantangan belum sepenuhnya usai. Akses terhadap pendidikan, peluang ekonomi, dan pelatihan masih belum merata. Di sinilah peran organisasi seperti TP PKK menjadi penting, sebagai jembatan yang membuka jalan.
Baginya, pemberdayaan tidak harus dimulai dari hal besar. Justru dari langkah sederhana: belajar keterampilan (memasak, menjahit, produk rumahan), aktif di komunitas seperti PKK, dan masuk ke dunia digital, berjualan lewat media sosial dan marketplace.
Pendekatan ini membuat perempuan tetap bisa berkarya tanpa meninggalkan peran keluarga. Sebuah konsep keseimbangan yang realistis, bukan utopis.
Memimpin dengan Keteladanan dan Kolaborasi
Dalam memimpin organisasi sebesar TP PKK, Tinawati memegang prinsip sederhana namun kuat: menjadi contoh, konsisten, dan bekerja bersama. Tantangan terbesarnya bukan hanya menjalankan program, tetapi menyatukan gerakan hingga ke tingkat desa, dengan latar belakang kader yang beragam dan bersifat relawan.
Namun di situlah kekuatannya, kolaborasi. Ia merangkul pemerintah, swasta, akademisi, hingga masyarakat, memastikan setiap program tidak hanya berjalan, tetapi juga relevan dan berdampak nyata.
Dari sekian banyak kegiatan, yang paling membekas bukanlah seremoni atau penghargaan. Melainkan saat melihat perubahan nyata: desa yang semakin mandiri, ibu-ibu yang mulai memiliki penghasilan, anak-anak dengan gizi yang lebih baik, dan lingkungan yang lebih sehat.
Momen-momen itu menjadi pengingat bahwa kerja sosial bukan sekadar program, tetapi tentang kehidupan nyata manusia.
Pesan untuk Perempuan Muda: Berani Bermimpi, Tetap Berakar
Untuk generasi muda, pesan Tinawati sederhana tapi kuat, berani bermimpi besar. Terus belajar. Jangan takut mengambil peran. Pegang nilai dan jati diri. Saling mendukung sesama perempuan.
Karena masa depan perempuan tidak ditentukan oleh keadaan, tetapi oleh keberanian untuk melangkah. Jika ia bisa berbicara langsung kepada Raden Ajeng Kartini hari ini, satu hal yang ingin disampaikan: perjuangan itu belum selesai.
Perempuan memang telah melangkah jauh, mengenyam pendidikan, berkarier, bahkan memimpin. Namun tantangan tetap ada, meski kini hadir dalam bentuk yang lebih halus.
Dan di situlah peran generasi sekarang: melanjutkan api Kartini, memastikan setiap perempuan, di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya. (ren)
