Korea Utara Murka! Serangan AS–Israel ke Iran Disebut “Aksi Gangster”

Korea Utara mengecam keras serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Pyongyang menyebut operasi tersebut sebagai tindakan agresi ilegal dan “seperti gangster”.

Minggu, 1 Maret 2026 - 22:38 WIB
Korea Utara Murka! Serangan AS–Israel ke Iran Disebut “Aksi Gangster”
Dari kiri: Presiden AS Donald Trump, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Televisi pemerintah Iran pada 1 Maret 2026 mengonfirmasi kematian Khamenei setelah Amerika Serikat menyatakan ia tewas dalam serangan udara di Iran. Foto: Yonhap for Hallonews.

HALLONEWS.ID — Korea Utara melontarkan kecaman keras terhadap serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, menyebutnya sebagai “perilaku seperti gangster” yang melanggar hukum internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui media pemerintah Korean Central News Agency (KCNA) pada Minggu, 1 Maret 2026.

Menurut KCNA, serangan Israel terhadap Iran dilakukan dengan dukungan aktif Amerika Serikat. Operasi militer Washington selanjutnya disebut sebagai “tindakan agresi yang sepenuhnya melanggar hukum” dan pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara.

“Ancaman militer AS yang telah berlangsung lama terhadap Iran kini meningkat menjadi serangan nyata, menunjukkan sifat hegemonik dan seperti gangster Washington,” demikian pernyataan KCNA, seperti dikutip dari The Korea Times, Minggu (1/3/2026).

Pyongyang menegaskan bahwa tindakan tersebut “tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun dan tidak dapat ditoleransi.”

Operasi militer bersandi Operasi Epic Fury diluncurkan pada Sabtu (28/2/2026 waktu AS itu, menyasar sejumlah target strategis di Teheran dan kota-kota lain di Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, di tengah kebuntuan pembicaraan nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran.

Serangan ini terjadi delapan bulan setelah operasi sebelumnya, Operasi Midnight Hammer, yang menargetkan fasilitas nuklir utama Iran.

Sinyal Geopolitik yang Lebih Luas

Kecaman Korea Utara mencerminkan garis keras Pyongyang terhadap kebijakan luar negeri AS. Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara dan Iran kerap disebut memiliki kepentingan strategis yang sejalan dalam menghadapi tekanan Washington.

Pyongyang menilai tindakan militer terbaru tersebut berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas, terutama di tengah meningkatnya rivalitas antara AS dan China.

Pernyataan itu juga muncul saat Washington disebut berupaya memfokuskan kembali strategi globalnya untuk menghadapi Beijing sebagai pesaing geopolitik utama.

Ketegangan Global Meningkat

Kecaman Korea Utara menambah daftar negara yang bereaksi terhadap eskalasi terbaru di Timur Tengah. Dengan tudingan agresi ilegal dan ancaman balasan dari Iran, situasi kini memasuki fase yang semakin kompleks.

Di tengah meningkatnya tensi militer dan diplomatik, dunia menanti apakah konflik ini akan meluas menjadi konfrontasi regional terbuka — atau masih ada ruang bagi diplomasi. (ren)