Manuver Militer AS: USS Gerald R Ford Dikerahkan, Iran Terancam Isolasi Baru

Ketegangan Memuncak! AS kerahkan kapal induk nuklir USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah, ancam Iran di ambang perang besar.

Sabtu, 14 Februari 2026 - 11:04 WIB
Manuver Militer AS: USS Gerald R Ford Dikerahkan, Iran Terancam Isolasi Baru
Kapal induk nuklir USS Gerald R. Ford berlayar menuju Timur Tengah, memperkuat kehadiran militer AS di kawasan yang memanas akibat krisis Iran. Foto: US Navy via Euronews for Hallonews

HALLONEWS.ID-Amerika Serikat (AS) mengerahkan USS Gerald R. Ford, kapal induk paling canggih dan mahal di dunia, ke Timur Tengah dalam langkah militer yang menegaskan sinyal keras kepada Teheran.

Langkah ini datang di tengah meningkatnya tekanan dari Presiden Donald Trump, yang menuntut agar Iran segera menandatangani kesepakatan nuklir baru — atau menghadapi “konsekuensi traumatis”.

“Kesepakatan harus terjadi dengan cepat. Mereka harus setuju sekarang juga,” tegas Trump kepada media di Washington, Jumat (13/2/2026) waktu setempat.

Kehadiran USS Gerald R. Ford akan memperkuat USS Abraham Lincoln, yang lebih dulu beroperasi di Laut Arab. Kedua kapal induk ini membawa kekuatan tempur udara dan laut yang mampu melumpuhkan target di seluruh kawasan.

Kapal Induk Super dengan Daya Hancur Luar Biasa

Dengan bobot 100.000 ton dan panjang 334 meter, USS Gerald R. Ford adalah simbol dominasi laut Amerika. Kapal ini membawa hingga 75 pesawat tempur F/A-18 Super Hornet, EA-18G Growler, dan E-2D Hawkeye, serta sistem pertahanan rudal berlapis.

Ditenagai dua reaktor nuklir A1B, kapal ini memiliki jangkauan tak terbatas selama 50 tahun masa operasionalnya, sementara Sistem Peluncuran Elektromagnetik (EMALS) memungkinkan peluncuran 160 pesawat per hari, menjadikannya monster di lautan.

“Energi yang dihasilkan reaktor Ford cukup untuk menyalakan seluruh kota berpenduduk 100.000 orang,” tulis laporan resmi Angkatan Laut AS.

Langkah AS ini datang saat Iran dilanda gejolak politik dan ekonomi, dengan protes nasional besar-besaran sejak akhir Desember 2025.

Krisis mata uang, inflasi ekstrem, dan represi brutal terhadap demonstran menewaskan hingga 30.000 orang, menurut laporan lembaga HAM internasional.

Video dari berbagai kota menunjukkan pelayat menyanyikan lagu “Ey Iran” — simbol patriotik yang dulu dilarang dalam upacara berkabung bagi korban penindasan rezim.

Israel dan Negara Teluk Siaga Penuh

Presiden Trump dikabarkan telah berbicara dengan Benjamin Netanyahu, meminta agar Israel tetap membuka jalur diplomasi namun bersiap jika Iran melanggar janji.

Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memperingatkan bahwa pengerahan militer ini bisa memicu konflik besar di kawasan yang sudah rapuh karena perang Israel–Hamas, ketegangan di Lebanon, dan situasi tak stabil di Suriah.

Jika diplomasi gagal, Iran berpotensi membalas dengan serangan rudal, sabotase minyak, atau penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.

Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kelompok proksi seperti Hamas, Hizbullah, serta Houthi telah melemah akibat perang sebelumnya, namun ancaman serangan balasan tetap nyata.

“Ini bukan sekadar pamer kekuatan. Ini peringatan bahwa Washington siap bertindak jika Iran melewati batas,” kata analis militer di Tel Aviv. (ren)