Mengapa Kangkung Jarang Ada di Menu Rumah Sakit? Ini Penjelasan Pakar Gizi IPB
Pakar dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University menjelaskan, penyusunan menu di fasilitas kesehatan dilakukan secara selektif demi keamanan dan kesesuaian gizi pasien.

HALLONEWS.ID-Kangkung adalah sayuran yang nyaris selalu hadir di meja makan masyarakat Indonesia. Dari tumis kangkung, plecing, hingga cah kangkong, semua mudah ditemukan mulai dari warung kaki lima hingga restoran.
Namun, pernahkah Anda perhatikan bahwa sayur hijau ini jarang sekali muncul di menu rumah sakit Apakah karena isu kontaminasi logam berat? Ternyata, jawabannya tidak sesederhana itu.
Menurut Hana Fitria Navratilova, Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, penyusunan menu di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan dengan seleksi yang ketat. Tujuannya bukan hanya untuk memastikan keamanan pangan, tapi juga menyesuaikan kebutuhan gizi pasien berdasarkan kondisi klinis masing-masing.
“Secara umum, sayuran berdaun memang jarang disajikan di rumah sakit. Selain alasan praktis seperti penyimpanan dan pengolahan, sayuran jenis ini juga mengandung tinggi purin,” ujar Dr. Hana kepada Hallonews, Jumat (13/2/2026) malam.
Bukan karena Berbahaya, tapi demi Kehati-hatian Medis
Dr. Hana menjelaskan, kandungan purin dalam sayuran berdaun seperti kangkung dapat menjadi perhatian khusus bagi pasien dengan gangguan metabolisme, misalnya asam urat.
Selain itu, sayuran berdaun juga memiliki kadar oksalat dan nitrat yang dalam kondisi tertentu perlu dibatasi.
Artinya, absennya kangkung dalam menu rumah sakit lebih karena pertimbangan medis dan efisiensi dapur klinis, bukan karena stigma atau anggapan berbahaya.
“Bahan makanan di rumah sakit harus aman untuk mayoritas pasien. Sayuran berdaun seperti kangkung tidak tahan lama, harus segera dimasak, dan volumenya menyusut drastis setelah dimasak, sehingga tidak efisien dalam standar penyajian rumah sakit,” jelasnya.
Rumah sakit lebih memilih sayuran yang stabil saat penyimpanan, aman bagi berbagai kondisi pasien, dan mudah diolah dengan takaran serta tekstur yang konsisten.
Soal Logam Berat: Bukan Masalah Tunggal Kangkung
Dr. Hana juga meluruskan persepsi bahwa kangkung identik dengan logam berat.
Menurutnya, logam berat memang berbahaya bila dikonsumsi dalam jangka panjang dan melebihi batas aman, karena dapat merusak hati, ginjal, hingga memicu kanker.
Namun, risiko tersebut tidak hanya berlaku pada kangkung. Beras, makanan laut, dan banyak bahan pangan lain pun bisa terpapar logam berat jika tumbuh di lingkungan tercemar.
“Kalau kangkung ditanam secara hidroponik dan sudah lolos uji keamanan, secara teoritis aman dikonsumsi. Tapi dalam konteks rumah sakit, kami tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian,” tegasnya.
Setiap Sendok Makanan adalah Bagian dari Terapi
Pada akhirnya, ketiadaan kangkung di menu rumah sakit bukan karena sayur ini berbahaya, melainkan karena sistem diet klinis rumah sakit dirancang seaman dan seuniversal mungkin.
Kangkung tetap sehat bagi masyarakat umum selama diolah dengan benar dan berasal dari sumber yang bersih.
“Di rumah sakit, setiap sendok makanan adalah bagian dari terapi. Karena itu, semua menu harus disesuaikan dengan kondisi pasien — bukan sekadar soal rasa,” tutup Dr. Hana.(opy)
