Menteri Intelijen Iran Tewas Dibunuh! Israel Klaim Serangan Besar Berikutnya Sudah Disiapkan

Israel menyatakan telah menewaskan Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib. Serangan lanjutan disebut akan semakin memperluas perang di kawasan.

Kamis, 19 Maret 2026 - 8:30 WIB
Menteri Intelijen Iran Tewas Dibunuh! Israel Klaim Serangan Besar Berikutnya Sudah Disiapkan
Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib yang diklaim tewas dalam serangan udara Israel di Teheran. Foto: Timeline Daily for Hallonews

HALLONEWS.ID – Konflik Iran–Israel kian memanas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengklaim Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) telah menewaskan Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib, dalam serangan udara yang dilakukan di Teheran pada Selasa malam (17/3/2026) waktu setempat.

Khatib menjadi pejabat tinggi Iran ketiga yang dilaporkan tewas hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir, menyusul sebelumnya tewasnya Ali Larijani dan Gholam Reza Soleimani.

“Pada hari ini, kejutan signifikan diperkirakan akan terjadi di semua arena yang akan meningkatkan perang yang kita lakukan melawan Iran dan Hizbullah di Lebanon,” ujar Katz dalam pernyataan resmi seperti dikutup Times of Israel, Kamis (19/3/2026)

Serangan Makin Intens, Target Elite Iran

Israel menyebut serangan terhadap Khatib merupakan bagian dari strategi untuk melumpuhkan struktur intelijen Iran.

Menurut IDF, Kementerian Intelijen Iran merupakan pusat operasi utama yang mengendalikan pengawasan, spionase, hingga operasi rahasia terhadap Israel dan sekutunya.

Sebagai menteri intelijen sejak 2021, Khatib disebut memainkan peran penting dalam penanganan protes besar di Iran, termasuk penindakan keras terhadap demonstran, serta dalam penyusunan strategi keamanan negara.

Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memberikan kewenangan penuh kepada militer untuk menargetkan tokoh-tokoh senior Iran tanpa perlu persetujuan tambahan.

Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam strategi militer Israel, yang kini secara terbuka memburu elite pemerintahan Iran.

Beberapa jam setelah serangan tersebut, Israel juga dilaporkan menggempur fasilitas pengolahan gas terbesar Iran di Provinsi Bushehr.

Operasi Intelijen dan Drone Masif

Sepanjang konflik, Israel diketahui mengandalkan kombinasi serangan udara presisi dan operasi intelijen untuk memburu pejabat keamanan Iran.

Laporan menyebutkan bahwa serangan dilakukan hingga ke lokasi-lokasi persembunyian, termasuk tenda darurat, kendaraan, hingga fasilitas sementara.

Mossad juga dilaporkan menjalankan operasi psikologis dengan menghubungi langsung pejabat keamanan Iran, memperingatkan mereka bahwa setiap pergerakan telah dipantau.

Selain itu, Angkatan Udara Israel mengerahkan armada drone patroli untuk menyerang pos-pos pemeriksaan dan basis paramiliter di Teheran.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan pasukan Basij menjadi target utama dalam operasi tersebut.

Iran dalam Tekanan, Aparat Mulai Terdesak

Di lapangan, kondisi di Iran dilaporkan semakin kacau. Sejumlah aparat keamanan disebut mulai berpindah-pindah lokasi, bahkan berlindung di masjid, kendaraan, hingga permukiman warga untuk menghindari serangan.

Warga sipil juga dilaporkan mulai meninggalkan tempat tinggal mereka karena khawatir menjadi sasaran.

Israel diyakini tidak hanya ingin melemahkan kekuatan militer Iran, tetapi juga menghancurkan sistem komando dan menciptakan tekanan psikologis di dalam negeri.

Perang Kian Meluas

Serangan terhadap Khatib menambah panjang daftar elite Iran yang tewas sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, setelah serangan awal Amerika Serikat dan Israel yang juga menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.

Meski demikian, Iran masih terus melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk.

Konflik ini kini tidak hanya menjadi perang terbuka antarnegara, tetapi juga pertarungan intelijen dan operasi tersembunyi yang semakin kompleks.

Dengan tewasnya Menteri Intelijen Iran, eskalasi konflik dipastikan memasuki fase baru yang lebih agresif. Ancaman “kejutan besar” yang disampaikan Israel pun menjadi sinyal bahwa perang ini masih jauh dari kata mereda. (ren)