Pakar IPB Ungkap Fakta Tawon Bisa Mengenali Wajah Manusia, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pakar serangga IPB University menjelaskan kemampuan tawon mengenali wajah manusia. Kemampuan tersebut terbukti secara ilmiah pada spesies tawon kertas dan berkaitan dengan sistem sosial koloni.

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:47 WIB
Pakar IPB Ungkap Fakta Tawon Bisa Mengenali Wajah Manusia, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Sarang tawon yang menurut riset dapat mengenali wajah manusia. Foto Humas IPB for Hallonews

HALLONEWS.ID – Anggapan bahwa tawon mampu mengenali dan mengingat wajah manusia yang pernah mengganggu sarangnya ternyata memiliki dasar ilmiah.

Namun, kemampuan tersebut tidak dimiliki semua jenis tawon, melainkan hanya ditemukan pada spesies tertentu yang hidup dalam koloni sosial yang kompleks.

Pakar serangga dari Departemen Biologi FMIPA IPB University, Prof. Tri Atmowidi, menjelaskan sejumlah penelitian telah membuktikan kemampuan pengenalan wajah pada tawon, khususnya spesies tawon kertas (Polistes fuscatus).

Menurutnya, penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari University of Michigan menunjukkan tawon kertas mampu mengenali wajah sesama anggota koloninya.

Kemampuan tersebut berkembang sebagai bagian dari kebutuhan sosial di dalam kelompok.

“Tawon kertas memiliki kemampuan mengenali individu lain melalui ciri visual pada wajah. Proses ini melibatkan sistem saraf dan kemampuan kognitif yang cukup kompleks,” ujar Prof. Tri, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan, proses pengenalan wajah dilakukan melalui penglihatan. Mata tawon memiliki sel reseptor khusus yang memungkinkan serangga tersebut mengenali pola visual tertentu.

Berbeda dengan manusia, tawon mampu melihat spektrum warna ultraviolet (UV), biru, dan hijau, tetapi tidak dapat melihat warna merah. Selain itu, penelitian juga menemukan adanya sel saraf khusus pada otak tawon yang berperan dalam mengolah informasi visual dan mengenali individu lain.

Kemampuan tersebut berkembang karena dalam koloni tawon kertas terdapat beberapa calon ratu yang harus mampu membedakan satu sama lain saat bersaing memperebutkan posisi pemimpin koloni.

Selain mengenali sesama tawon, kemampuan pemrosesan visual itu memungkinkan spesies ini mengenali wajah manusia yang berada di sekitar sarangnya.

Meski demikian, Prof. Tri menegaskan bahwa kemampuan tersebut tidak berlaku untuk seluruh jenis tawon.

Hingga kini, bukti ilmiah paling kuat hanya ditemukan pada tawon kertas yang hidup dalam koloni sosial kompleks.

Sebaliknya, tawon soliter atau tawon yang hidup sendiri cenderung tidak memiliki kemampuan pengenalan wajah yang berkembang baik karena tidak memerlukan interaksi sosial yang intens.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tawon sosial juga berpotensi mengingat individu yang pernah dianggap sebagai ancaman. Ketika sarang mereka diganggu, tawon dapat menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk perlindungan terhadap koloninya.

“Jika pernah mengenali ancaman tertentu, respons pertahanan yang ditunjukkan bisa menjadi lebih kuat ketika ancaman tersebut muncul kembali,” jelasnya.

Dalam menjalankan sistem pertahanan, tawon tidak hanya mengandalkan penglihatan.

Serangga ini juga menggunakan komunikasi kimia melalui feromon untuk memberi sinyal kepada anggota koloni lainnya mengenai adanya bahaya.

Menurut Prof. Tri, pada tawon kertas ancaman umumnya dikenali melalui kombinasi pengamatan visual terhadap wajah maupun gerakan di sekitar sarang.

Gerakan yang mendadak atau mencurigakan dapat memicu respons defensif dari koloni.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengganggu sarang tawon yang ditemukan di lingkungan sekitar. Pada dasarnya, tawon akan menyerang apabila merasa terancam atau sarangnya terganggu.

Ia menyarankan agar masyarakat tidak melempar, mengguncang, maupun membakar sarang tawon. Menjaga jarak aman, menghindari gerakan tiba-tiba, serta tidak menggunakan aroma yang terlalu menyengat di sekitar sarang menjadi langkah sederhana untuk mencegah serangan tawon.

“Tawon pada dasarnya bersifat defensif. Selama tidak merasa terancam, mereka umumnya tidak akan menyerang manusia,” pungkasnya. (opy)