IPB Gelar Bedah Buku Prof Sajogyo, Hidupkan Kembali Gagasan Pembangunan Desa dan Ketahanan Gizi
IPB University menggelar bedah buku Prof Sajogyo di Dramaga, Bogor. Pemikiran Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia kembali diangkat untuk menjawab tantangan pembangunan desa dan ketahanan gizi masa kini

HALLONEWS.ID – Acara pembukaan bedah buku salah seorang tokoh akademis yang melahirkan sejumlah gagasan dalam pembangunan dan pengembangan desa di Indonesia, berlangsung di IPB Dramaga Bogor Selasa (19/5/2026).
Bedah buku Prof. Dr. Ir. Sajogyo seorang pakar sosiologi terkemuka yang dikenal secara luas sebagai “Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia”, diwarnai tanya jawab.
Prof Sajogyo yang wafat pada tahun 2012 lalu, kini melalui Sajogyo Institut, kembali ingin menghidupkan lagi gagasan tersebut.
Bahkan para pengelola yayasan, akan menjadikan pemikiran mantan Rektor IPB University ini dalam tataran global melalui seminar dua hari yang melibatkan pembicara dari berbagai negara.
Pemikiran Prof Sajogyo yang dituangkan dalam empat buku ini, menjadi peletak dasar ini seperti Koperasi Unit Desa, Posyandu dan Lembaga Desa yang saat ini di kenal.
Bahkan gagasan almarhum tentang perbaikan gizi keluarga yang dicetuskan tahun 1984 yabg diluncurkan lewat studi evaluasi program, kini diadopsi pemerintahan Prabowo dengan program makan bergizi gratis, walau metodenya saja yang berbeda.
Doktor Ivanovich Agusta, penulis buku Prof Sajogyo yang juga Kepala Pusat Study Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University mengatakan, almarhum pernah mengemban amanah sebagai Rektor IPB pada periode tahun 1965–1966.
Doktor Ivanovich Agusta yang juga menjabat sebagai Kepala PSP3 IPB University menegaskan, Prof Sajogyo
merupakan salah satu tokoh akademis yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu sosiologi, isu agraria, serta penanggulangan kemiskinan di Indonesia.
“Poin-poin penting mengenai profil, kontribusi, dan warisan pemikiran Prof. Sajogyo, sangat relevan ditengah perkembangan dunia saat ini lewat teknologi. Almarhumah berpikir bagaimana gizi dari makanan yang dimakan, bukan berapa piring yang dihabiskan,” kata Dr. Ivanovich kepada wartawan Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, Prof Sajogyo yang lahir dengan nama Sri Kusumo Kampto Utomo pada 21 Mei 1926 di Karanganyar, Jawa Tengah. Ia wafat pada 17 Maret 2012.
Karier almarhum di IPB, sangatlah gemilang. Gagasannya tentang kedaulatan rakyat atas hak tanah serta bagaimana pemenuhan gizi itu bagi petani, membuatnya menjadi salah satu pilar utama di Institut Pertanian Bogor (IPB) University.
“Berdasarkan informasi sejarah dari Museum IPB, almarhum Prof Sajogyo menikah dengan Pudjiwati Sajogyo yang juga merupakan seorang guru besar sosiologi pedesaan di IPB,” ujarnya.
“Rumah yang di Malabar, Bogor Tengah, Kota Bogor, tempat almarhum menuangkan ide dan gagasan, kini sudah dihibahkan menjadi milik Sajogyo Institut,” tegas Dr Ivanovich. (opy)
